Berita
tirto.id - Beredar video di Facebook yang mengklaim polisi Indonesia tidak berani menangkap Hercules Rosario Marshal karena Hercules disebut sebagai “raja” dan “pimpinan” mereka.
Video tersebut diunggah oleh akun Facebook “Chepot Hidayatullah” (arsip) pada Selasa, (1/9/2026). Dalam video tersebut memperlihatkan Kombes Pol. Budi Hermanto, seorang polisi yang sedang berbicara dalam sebuah forum yang terkait dengan Hercules, dengan logo kepolisian di latar belakangnya.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“Kami dari pihak kepolisian Indonesia tidak akan berani menangkap Hercules,” kemudian dilanjutkan dengan klaim bahwa Hercules selalu berbuat onar, tetapi disebut sebagai “raja kami dan pimpinan kami yang abadi”.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Lebih lanjut, pada bagian akhir, terdengar suara yang mengatakan, “Nah, begitu dong, jadi anak buahku yang patuh sama saya.”
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Sampai artikel ini ditulis pada Rabu (9/9/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 3 tanda suka, 1 komentar, dan 155 kali ditayangkan.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun TikTok “makoko226” yang menampilkan video serupa terkait polisi tidak berani menangkap Hercules.
Lantas, benarkah polisi Indonesia menyatakan tidak berani menangkap Hercules karena menganggapnya sebagai raja dan pimpinan mereka?
Baca juga:Polisi Selidiki Kasus Dugaan Penyekapan oleh Hercules
periksa fakta polisi tidak berani tangkap hercules.
Video tersebut diunggah oleh akun Facebook “Chepot Hidayatullah” (arsip) pada Selasa, (1/9/2026). Dalam video tersebut memperlihatkan Kombes Pol. Budi Hermanto, seorang polisi yang sedang berbicara dalam sebuah forum yang terkait dengan Hercules, dengan logo kepolisian di latar belakangnya.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“Kami dari pihak kepolisian Indonesia tidak akan berani menangkap Hercules,” kemudian dilanjutkan dengan klaim bahwa Hercules selalu berbuat onar, tetapi disebut sebagai “raja kami dan pimpinan kami yang abadi”.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Lebih lanjut, pada bagian akhir, terdengar suara yang mengatakan, “Nah, begitu dong, jadi anak buahku yang patuh sama saya.”
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Sampai artikel ini ditulis pada Rabu (9/9/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 3 tanda suka, 1 komentar, dan 155 kali ditayangkan.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun TikTok “makoko226” yang menampilkan video serupa terkait polisi tidak berani menangkap Hercules.
Lantas, benarkah polisi Indonesia menyatakan tidak berani menangkap Hercules karena menganggapnya sebagai raja dan pimpinan mereka?
Baca juga:Polisi Selidiki Kasus Dugaan Penyekapan oleh Hercules
periksa fakta polisi tidak berani tangkap hercules.
HASIL CEK FAKTA
Untuk membuktikan kebenaran klaim, Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) dengan menggunakan mesin pencarian Google. Hasilnya, tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang mendukung klaim tersebut.
Sebagai informasi, Rosario de Marshall alias Hercules adalah mantan penguasa dunia hitam atau preman legendaris asal Tanah Abang, Jakarta. Ini kini aktif sebagai Ketua Umum Ormas Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya.
Hercules, sering berurusan dengan hukum. Ia kerap dikejar dan ditangkap oleh kepolisian di Indonesia karena rekam jejak masa lalunya sebagai pemimpin kelompok preman di Jakarta (khususnya Tanah Abang), serta keterlibatannya dalam sejumlah kasus kriminal.
Lebih lanjut, Tirto menemukan gambar serupa pada laman Tangerang Newsyangmenuliskan laporan berjudul “Polda Metro Jaya Tegaskan Kasat Narkoba Polres Tangsel Tidak Terlibat Jaringan Narkotika, Namun Tetap Diperiksa Propam” pada 28 Juli 2026. Laporan tersebut juga memuat pernyataan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto.
Polda Metro Jaya memberikan klarifikasi tegas terkait perkembangan penyidikan kasus kepemilikan dan peredaran narkotika jenis etomidat yang menjerat sejumlah tersangka.
Dalam berita tersebut, Budi menjelaskan bahwa Kasat Narkoba Polres Tangerang Selatan beserta lima anggota lainnya tidak terkait secara langsung dengan penahanan dua tersangka kasus kepemilikan dan peredaran etomidat yang ditangani Bareskrim Polri. Namun, mereka tetap diperiksa Propam untuk mendalami aspek pengawasan dan pengendalian terhadap bawahan.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Budi Hermanto menyatakan, Kepala Satuan Reserse Narkoba (Kasat Narkoba) Polres Tangerang Selatan beserta lima anggota polisi lainnya tidak terkait secara langsung dengan kasus penahanan dua tersangka berinisial MR dan DD yang ditangani oleh Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri.
“Kasat Narkoba beserta lima orang lainnya tidak terkait tentang penahanan dua orang tersangka kepemilikan dan peredaran etomidate oleh Bareskrim Polri,” ujarnya Selasa 28 Juli 2026.
Budi tidak pernah mengatakan bahwa polisi takut menangkap Hercules karena Hercules adalah raja atau pimpinan mereka. Faktanya, dokumentasi pemberitaan menunjukkan aparat kepolisian justru pernah menangkap Hercules dalam sejumlah kasus.
Kemudian Tirto menyimak video tersebut dari awal sampai akhir dengan saksama dan menemukan beberapa kejanggalan. Cuplikan video hanya menampilkan potongan seorang polisi dengan tambahan teks dan audio, tanpa menyertakan sumber rekaman utuh, konteks acara, tanggal perekaman, serta siapa pembicara, dan kepada siapa pernyataan tersebut ditujukan. Terlihat gerak bibir dan gestur saat berbicara tidak sesuai, dan kualitas video buram.
Untuk memastikan keaslian video, Tirto menggunakan layanan Hive Moderation guna menganalisis suara dalam video tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa audio tersebut memiliki probabilitas sebesar 63,2 persen sebagai hasil manipulasi AI.
Melansir Antara, polisi justru pernah menangkap Hercules pada 8 Maret 2013. Aparat gabungan Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Barat menangkap Hercules bersama puluhan orang yang disebut sebagai anak buahnya. Penangkapan itu berkaitan dengan dugaan kekerasan dan pemerasan. Hercules dan puluhan pengikutnya diamankan polisi setelah adanya laporan masyarakat mengenai dugaan intimidasi dan pemerasan.
Terdapat pemberitaan mengenai penangkapan Hercules yang menunjukkan bahwa aparat kepolisian melakukan tindakan hukum terhadapnya. Bahkan pada 2018, Kapolres Metro Jakarta Barat menyatakan polisi mengejar pihak yang diduga menjadi pemimpin dalam kasus pendudukan lahan yang melibatkan sejumlah orang yang mengaku sebagai kelompok Hercules.
Tirto juga pernah menuliskan laporan perihal pihak kepolisian pernah berurusan dengan Hercules. Dalam laporan Tirto tersebut dituliskan bahwa Polda Metro Jaya telah menerima laporan anak penulis Ahmad Bahar, Ilma Sani Fitriana, terhadap Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB Jaya), Hercules, atas penyekapan yang menimpanya pada Minggu (17/5/2026) lalu.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, mengatakan, Polda Metro Jaya akan segera melakukan penyelidikan dengan meminta klarifikasi dari pihak pelapor, sekaligus menganalisis barang bukti.
“Dalam laporan tersebut, kepolisian pasti akan melakukan penyelidikan dengan mengklarifikasi dari pelapor, menganalisis barang bukti, olah TKP,” kata Budi saat ditemui wartawan di Polda Metro Jaya, Sabtu (23/5/2026).
Budi menyebut, apabila nantinya atas laporan tersebut telah dilakukan gelar perkara, maka statusnya akan segera naik dari penyelidikan menjadi penyidikan.
Dengan demikian, tidak ditemukan bukti kredibel bahwa Polri pernah menyatakan Hercules sebagai “raja” atau “pimpinan” mereka. Sebaliknya, terdapat dokumentasi pemberitaan mengenai penangkapan Hercules oleh aparat serta bagaimana Hercules sering berurusan dengan pihak kepolisian.
Baca juga:Anak Penulis Ahmad Bahar Polisikan Hercules dan GRIB Jaya
Sebagai informasi, Rosario de Marshall alias Hercules adalah mantan penguasa dunia hitam atau preman legendaris asal Tanah Abang, Jakarta. Ini kini aktif sebagai Ketua Umum Ormas Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya.
Hercules, sering berurusan dengan hukum. Ia kerap dikejar dan ditangkap oleh kepolisian di Indonesia karena rekam jejak masa lalunya sebagai pemimpin kelompok preman di Jakarta (khususnya Tanah Abang), serta keterlibatannya dalam sejumlah kasus kriminal.
Lebih lanjut, Tirto menemukan gambar serupa pada laman Tangerang Newsyangmenuliskan laporan berjudul “Polda Metro Jaya Tegaskan Kasat Narkoba Polres Tangsel Tidak Terlibat Jaringan Narkotika, Namun Tetap Diperiksa Propam” pada 28 Juli 2026. Laporan tersebut juga memuat pernyataan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto.
Polda Metro Jaya memberikan klarifikasi tegas terkait perkembangan penyidikan kasus kepemilikan dan peredaran narkotika jenis etomidat yang menjerat sejumlah tersangka.
Dalam berita tersebut, Budi menjelaskan bahwa Kasat Narkoba Polres Tangerang Selatan beserta lima anggota lainnya tidak terkait secara langsung dengan penahanan dua tersangka kasus kepemilikan dan peredaran etomidat yang ditangani Bareskrim Polri. Namun, mereka tetap diperiksa Propam untuk mendalami aspek pengawasan dan pengendalian terhadap bawahan.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Budi Hermanto menyatakan, Kepala Satuan Reserse Narkoba (Kasat Narkoba) Polres Tangerang Selatan beserta lima anggota polisi lainnya tidak terkait secara langsung dengan kasus penahanan dua tersangka berinisial MR dan DD yang ditangani oleh Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri.
“Kasat Narkoba beserta lima orang lainnya tidak terkait tentang penahanan dua orang tersangka kepemilikan dan peredaran etomidate oleh Bareskrim Polri,” ujarnya Selasa 28 Juli 2026.
Budi tidak pernah mengatakan bahwa polisi takut menangkap Hercules karena Hercules adalah raja atau pimpinan mereka. Faktanya, dokumentasi pemberitaan menunjukkan aparat kepolisian justru pernah menangkap Hercules dalam sejumlah kasus.
Kemudian Tirto menyimak video tersebut dari awal sampai akhir dengan saksama dan menemukan beberapa kejanggalan. Cuplikan video hanya menampilkan potongan seorang polisi dengan tambahan teks dan audio, tanpa menyertakan sumber rekaman utuh, konteks acara, tanggal perekaman, serta siapa pembicara, dan kepada siapa pernyataan tersebut ditujukan. Terlihat gerak bibir dan gestur saat berbicara tidak sesuai, dan kualitas video buram.
Untuk memastikan keaslian video, Tirto menggunakan layanan Hive Moderation guna menganalisis suara dalam video tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa audio tersebut memiliki probabilitas sebesar 63,2 persen sebagai hasil manipulasi AI.
Melansir Antara, polisi justru pernah menangkap Hercules pada 8 Maret 2013. Aparat gabungan Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Barat menangkap Hercules bersama puluhan orang yang disebut sebagai anak buahnya. Penangkapan itu berkaitan dengan dugaan kekerasan dan pemerasan. Hercules dan puluhan pengikutnya diamankan polisi setelah adanya laporan masyarakat mengenai dugaan intimidasi dan pemerasan.
Terdapat pemberitaan mengenai penangkapan Hercules yang menunjukkan bahwa aparat kepolisian melakukan tindakan hukum terhadapnya. Bahkan pada 2018, Kapolres Metro Jakarta Barat menyatakan polisi mengejar pihak yang diduga menjadi pemimpin dalam kasus pendudukan lahan yang melibatkan sejumlah orang yang mengaku sebagai kelompok Hercules.
Tirto juga pernah menuliskan laporan perihal pihak kepolisian pernah berurusan dengan Hercules. Dalam laporan Tirto tersebut dituliskan bahwa Polda Metro Jaya telah menerima laporan anak penulis Ahmad Bahar, Ilma Sani Fitriana, terhadap Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB Jaya), Hercules, atas penyekapan yang menimpanya pada Minggu (17/5/2026) lalu.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, mengatakan, Polda Metro Jaya akan segera melakukan penyelidikan dengan meminta klarifikasi dari pihak pelapor, sekaligus menganalisis barang bukti.
“Dalam laporan tersebut, kepolisian pasti akan melakukan penyelidikan dengan mengklarifikasi dari pelapor, menganalisis barang bukti, olah TKP,” kata Budi saat ditemui wartawan di Polda Metro Jaya, Sabtu (23/5/2026).
Budi menyebut, apabila nantinya atas laporan tersebut telah dilakukan gelar perkara, maka statusnya akan segera naik dari penyelidikan menjadi penyidikan.
Dengan demikian, tidak ditemukan bukti kredibel bahwa Polri pernah menyatakan Hercules sebagai “raja” atau “pimpinan” mereka. Sebaliknya, terdapat dokumentasi pemberitaan mengenai penangkapan Hercules oleh aparat serta bagaimana Hercules sering berurusan dengan pihak kepolisian.
Baca juga:Anak Penulis Ahmad Bahar Polisikan Hercules dan GRIB Jaya
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyebutkan bahwa polisi Indonesia tidak berani menangkap Hercules karena Hercules adalah raja dan pimpinan mereka yang abadi adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).
Video tersebut merupakan konten yang dibuat menggunakan AI dan Polri tidak pernah menyatakan Hercules sebagai “raja” atau “pimpinan” mereka. Selain itu, terdapat bukti dokumentasi bahwa Hercules pernah ditangkap oleh polisi.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Video tersebut merupakan konten yang dibuat menggunakan AI dan Polri tidak pernah menyatakan Hercules sebagai “raja” atau “pimpinan” mereka. Selain itu, terdapat bukti dokumentasi bahwa Hercules pernah ditangkap oleh polisi.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Rujukan
https://web.facebook.com/reel/1085060714449951
https://www.tiktok.com/@makoko226/video/7681654016811699476
https://tirto.id/polisi-selidiki-kasus-dugaan-penyekapan-oleh-hercules-hwE2
https://hivemoderation.com/ai-generated-content-detection
https://www.antaranews.com/berita/362330/hercules-ditangkap
https://tirto.id/anak-penulis-ahmad-bahar-polisikan-hercules-dan-grib-jaya-hwDw
Publish date : 2026-09-09

