close
SALAH [ Manipulated Content ]
“DIAJAK TES BACA AL QURAN TIDAK MAU MALAH PESTA WINE JOGET HURA-HURA FAKTAKARDUS.COM PARADOKS CAPRES IJTIMA ULAMA Beginikah Capres pilihan ulama? Ulama macam apa yang pilih Capres beginian?”

Hasil Cek Fakta

Post SUMBER menggunakan video hasil suntingan, video Prabowo menari Sajojo yang asli adalah unggahan di 2016. Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.

Referensi

Diperiksa Oleh

Mafindo 

Bagikan

close
SALAH [ Misleading Content ]
Beredar informasi yang menyebutkan bahwa kita bisa mendeteksi bakso yang mengandung borax hanya dengan tusuk gigi yang sudah ditusukan ke kunyit menjadi pesan berantai dan menyebar di media sosial. Disebutkan cara itu merupakan temuan dari siswi SMA 3 Semarang yang sudah dipamerkan dalam ajang International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2014.

Hasil Cek Fakta

Pesan berantai ini ada kemungkinan benar isinya, terutama yang menyangkut penggunaan kunyit sebagai pendeteksi borax. Namun pesan yang mengatasnamakan siswi SMA 3 Semarang itu tidak benar atau hoax karena mereka belum mempublikasikan temuanya secara luas. Soal kunyit yang bisa mendeteksi borax, Dila mengaku tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak.

Referensi

Diperiksa Oleh

Mafindo 

Bagikan

close
SALAH [ Misleading Content ]
Sebuah Tugu Keluarga Berencana ( KB) dengan lambang dua jari menjadi pembicaraan warganet. Tugu yang terletak di Jalan Raya Bantul, Km 5, Dusun Glondong, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta sempat ditutup terpal. Warganet beranggapan jika hal itu berkaitan dengan kontestasi politik dewasa ini. Akan tetapi, ternyata tugu ditutup karena takut rusak sebab baru saja dibangun. Foto tugu yang ditutup itu diunggah ke media sosial oleh pemilik akun Ji’ih. Dalam unggahan tiga foto ke media sosial tersebut, pemilik akun menambahkan tulisan, “Simbol KB 2JARI di daerah Bantul projotamansari dipaksa tutup terpal. Setdaah…udeh kronis amat ame 2JARI, tuh patung kaga salah ape2 lo blongsongi pake terpal kaya buah nangka. Paraah coyy…”. Unggahan itu juga diikuti emoticon tertawa.

Hasil Cek Fakta

Dari penelusuran, Tugu KB berada di pintu masuk dusun. Salah satu warga yang berada di belakang tugu, Hascaryo mengatakan, apa yang diunggah oleh warganet ke media sosial sama sekali tidak sesuai dengan fakta yang ada. Warga yang rumahnya berada di sisi barat Tugu Keluarga Berencana ini pun menceritakan awal mula pembangunan Tugu Keluarga Berencana yang kemudian viral di media sosial. “Yang menutup pak dukuh, awalnya karena masih baru dibangun dan kondisi cuaca waktu itu hujan ditutup menggunakan terpal, tetapi yang membuka saya tidak mengetahui,”katanya Selasa (15/1/2019) “Penutupan Tugu KB itu tidak ada hubungannya dengan masalah politik, hanya untuk keamanan Tugu KB agar cepat kering. Beberapa hari lalu, KPU juga datang ke sini menanyakan hal sama. Saya jawab begitu, akhirnya mereka paham,” ucapnya. Kepada Dusun Glondong Yanto Eko Cahyono belum bisa dikonfirmasi. Ketika dicari di kediamannya, Yanto tak berada di rumah. Namun, istri Yanto Eko Cahyono, Tutik, menceritakan hal yang tak jauh berbeda. Awalnya, Tugu Keluarga Berencana berada di sisi selatan atau jalan alternatif masuk Kampung Glondong. Namun, dibatalkan dan dipindahkan ke jalan utama masuk dusun. Di lokasi itu juga ada gapura selamat datang ke Dusun Glondong. “Tidak ada kaitannya dengan politik, karena waktu itu sudah malam juga selesainya,” katanya.

Referensi

Diperiksa Oleh

Mafindo 

Bagikan

check
FALSE [ Misleading Content ]

Kades di Jatim Dipenjara karena Menyatakan Dukungan pada Prabowo?

Sumber: Debat Pilpres Live 17 Januari 2019
Tanggal: 17/01/2019
Dalam salah satu sesi Debat Pilpres 2019, Kamis (17/1) malam, Capres Prabowo Subianto mengeluhkan soal aparat hukum yang dinilainya berat sebelah. Prabowo pun mengungkapkan contoh soal seorang kepada desa di Jawa Timur yang harus menjalani hukuman pidana. "Sebagai contoh kalau ada kepala daerah, gubernur-gubernur yang mendukung paslon 01 itu, menyatakan dukungan tidak apa-apa. Tapi ada kepala desa Jawa Timur menyatakan dukungan kepada kami, sekarang ditahan Pak, ditangkep. Jadi saya kira, ini juga suatu perlakuan tidak adil ya, juga menurut saya pelanggaran HAM karena menyatakan pendapat itu dijamin oleh Undang-Undang Dasar Pak," kata Prabowo dalam sesi debat tersebut.

Hasil Cek Fakta

Berdasarkan penelusuran, Kades Sampangagung, Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Jatim, bernama Suhartono, akhirnya dijebloskan ke Lapas Klas IIB. Suhartono memang benar pendukung pasangan Prabowo – Sandiaga. Namun, Suhartono dijebloskan ke penjara bukan karena pernyataan dukungannya kepada Prabowo - Sandiaga. Ia dinyatakan bersalah oleh Majelis Hakim PN Mojokerto, karena terbukti melakukan tindak pidana Pemilu dengan terlibat aktif melakukan kampanye berupa acara penyambutan Cawapres Sandiaga Uno ke daerahnya. Acara penyambutan Sandiaga ini, sebagaimana diberitakan sejumlah media, termasuk di antaranya Detik.com, diawali dengan rapat di rumah Suhartono, Jumat (19/10). Rapat ini melibatkan terdakwa, istrinya, Ketua Karang Taruna Desa Sampangagung Sunardi dan sejumlah warga lainnya. Esoknya setelah pertemuan, Sunardi memesan spanduk dan banner bertuliskan ucapan selamat datang dan dukungan untuk Sandiaga, juga memesan musik patrol untuk meramaikan. Suhartono sendiri mendikte istrinya untuk mengirim pesan di grup WhatsApp PKK Desa Sampangagung, berisi ajakan untuk hadir di acara penyambutan Sandiaga, sekaligus menjanjikan uang saku Rp 20 ribu bagi setiap ibu-ibu yang hadir. Minggu (21/10) sekitar pukul 16.00 WIB, sekitar 200 orang yang digalang Suhartono menghadang rombongan Sandiaga di Jalan Raya Pacet, Desa Sampangagung. Saat itu Cawapres nomor urut 02 tersebut datang dalam rangka berkampanye di wisata air panas Padusan, Pacet, Mojokerto. Suhartono sendiri juga aktif di acara penyambutan Sandiaga itu. Memakai kemeja putih bertuliskan Sapa Prabowo, dia lantas sempat mendekati Sandiaga untuk berfoto sembari mengacungkan dua jari. Belakangan, Suhartono juga mengakui menghabiskan Rp 20 juta untuk menggelar acara penyambutan Sandiaga. Uang itu antara lain dibagikan kepada ibu-ibu yang datang sesuai undangan, dengan nilai Rp 20 ribu, Rp 50 ribu, hingga Rp 100 ribu per orang. Dari konteks peraturan perundangan, dalam Pasal 1 angka 3 huruf B Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa disebutkan: kepala desa dilarang membuat keputusan yang menguntungkan diri sendiri, anggota keluarga, pihak lain, dan/atau golongan tertentu. Pelanggaran terhadap hal ini bisa berujung pada sanksi administratif. Namun, ada juga sanksi pidana yang bisa diberlakukan, khususnya jika merujuk pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Pasal 490 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu berbunyi: "Setiap kepala desa atau sebutan lain yang dengan sengaja membuat keputusan dan/atau melakukan tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu Peserta Pemilu dalam masa Kampanye, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah)." Adapun vonis (amar putusan) dari hakim PN Mojokerto pada 13 Desember 2018, antara lain berbunyi: 1. Menyatakan Terdakwa Suhartono terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana "dengan sengaja melakukan tindakan yang menguntungkan salah satu peserta Pemilu dalam masa kampanye"; 2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa Suhartono, dengan pidana penjara selama 2 (dua) bulan dan denda sebesar Rp 6.000.000 (enam juta rupiah), dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, maka diganti dengan pidana Kurungan selama 1 (satu) bulan. Suhartono sendiri melalui kuasa hukumnya langsung menyatakan banding seusai pembacaan vonis tersebut. Namun selang beberapa hari kemudian, Suhartono justru mencabut permohonan banding tersebut dan akhirnya memutuskan menjalani hukuman yang dijatuhkan.

Kesimpulan

Prabowo benar bahwa ada kepala desa pendukungnya di Jatim yang diproses hukum dan dipenjara. Namun, Prabowo salah bahwa kades itu dipenjara karena pernyataan dukungannya, melainkan karena menyelewengkan wewenang sebagai aparat desa, atau sebagaimana amar putusan hakim "dengan sengaja melakukan tindakan yang menguntungkan salah satu peserta Pemilu dalam masa kampanye". Oleh karenanya, klaim Prabowo dalam hal ini bisa dikategorikan sebagai misinformasi.

Referensi

Diperiksa Oleh

Suara.com 

Bagikan

Bekerjasama dengan:

Urut berdasarkan abjad

Didukung Oleh:

Urut berdasarkan abjad