Berita
tirto.id - Sebuah unggahan video beredar di media sosial Instagram mengklaim fakta, air rebusan mie instan berbahaya bagi kesehatan. Klaim dalam unggahan juga menyebutkan bahwa air rebusan mie instan mengandung sisa lilin.
Video tersebut disebarkan oleh akun Instagram @windashay (arsip) pada Minggu (21/12/2025). Cuplikan video berdurasi 12 detik tersebut menampilkan tulisan 5 fakta terkait air rebusan mie.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“DI UMUR BERAPA KAMU TAU AIR REBUSAN MIE.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Air rebusan mie instan pertama mengandung sisa lilin atau minyak dari lapisan mie kering yang bisa ikut larut saat direbus.Air itu juga mengandung kadar natrium tinggi dari bumbu dan sisa mie, kalo sering diminum ganggu tekanan darah. Titik umiSaat mie direbus, sebagian bahan pengawet ikut larut ke air jadi kalo dikonsumsi bisa memberatkan kerja hati dan ginjal.Klo mau lebih aman buang air rebusan pertama, lalu ganti dengan air baru, sebelum ditambah bumbu.Minum air setelah makan mie bantu netralisir efek garam dan menjaga tubuh tetap seimbang.” Begitu narasi tertulis dalam video.
likes
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Despina Nasution,” “Darwanto Suharti,” “Surdi Afandi II,” dan “Dewix vlog.” Semua unggahan video tersebut menampilkan klaim terkait 5 bahaya air rebusan mie instan.
Lantas, bagaimana kebenaran fakta mengonsumsi air rebusan mie instan?
Baca juga:Benarkah Makan Mie Instan Bisa Bikin Usus Buntu? Ini Jawabannya
Periksa Fakta air rebusan mie instan. foto/Hotline periksa fakta tirto
Video tersebut disebarkan oleh akun Instagram @windashay (arsip) pada Minggu (21/12/2025). Cuplikan video berdurasi 12 detik tersebut menampilkan tulisan 5 fakta terkait air rebusan mie.
let gpt_inline2 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline2.cmd.push(function() {gpt_inline2.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-2', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline2-passback').addService(gpt_inline2.pubads());gpt_inline2.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline2.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline2.enableServices();gpt_inline2.display('gpt-inline2-passback');});
“DI UMUR BERAPA KAMU TAU AIR REBUSAN MIE.
let gpt_inline3 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline3.cmd.push(function() {gpt_inline3.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-3', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline3-passback').addService(gpt_inline3.pubads());gpt_inline3.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline3.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline3.enableServices();gpt_inline3.display('gpt-inline3-passback');});
#gpt-inline3-passback{text-align:center;}
Air rebusan mie instan pertama mengandung sisa lilin atau minyak dari lapisan mie kering yang bisa ikut larut saat direbus.Air itu juga mengandung kadar natrium tinggi dari bumbu dan sisa mie, kalo sering diminum ganggu tekanan darah. Titik umiSaat mie direbus, sebagian bahan pengawet ikut larut ke air jadi kalo dikonsumsi bisa memberatkan kerja hati dan ginjal.Klo mau lebih aman buang air rebusan pertama, lalu ganti dengan air baru, sebelum ditambah bumbu.Minum air setelah makan mie bantu netralisir efek garam dan menjaga tubuh tetap seimbang.” Begitu narasi tertulis dalam video.
likes
let gpt_inline4 = window.googletag || {cmd: []};gpt_inline4.cmd.push(function() {gpt_inline4.defineSlot('/22201407306/tirto-desktop/inline-4', [[336, 280], [300, 250]], 'gpt-inline4-passback').addService(gpt_inline4.pubads());gpt_inline4.pubads().enableSingleRequest();gpt_inline4.pubads().collapseEmptyDivs();gpt_inline4.enableServices();gpt_inline4.display('gpt-inline4-passback');});
#gpt-inline4-passback{text-align:center;}
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Despina Nasution,” “Darwanto Suharti,” “Surdi Afandi II,” dan “Dewix vlog.” Semua unggahan video tersebut menampilkan klaim terkait 5 bahaya air rebusan mie instan.
Lantas, bagaimana kebenaran fakta mengonsumsi air rebusan mie instan?
Baca juga:Benarkah Makan Mie Instan Bisa Bikin Usus Buntu? Ini Jawabannya
Periksa Fakta air rebusan mie instan. foto/Hotline periksa fakta tirto
HASIL CEK FAKTA
Tim Periksa Fakta Tirto memverifikasi klaim tersebut dengan dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH., Ph.D, seorang dokter, epidemiolog, dan peneliti aktif di Griffith University, Australia, dengan spesialisasi di bidang keamanan kesehatan global. Menurutnya, klaim air rebusan mengandung sisa lilin atau minyak dari lapisan mie kering sebagian benar, sebagian juga menyesatkan.
Jadi, menurut Dicky, kandungan lilin ini mitos lama yang berulang kali dibantah, karena mie instan tidak dilapisi lilin. Adapun kilap dalam mie itu berasal dari minyak sisa proses penggorengannya saat produksi.
“Jadi, bukan lilin. Jadi, frasa lilin dalam klaim ini salah.” Begitu tegas Dicky saat dihubungi Tirto, Rabu (5/8/2026).
Kemudian, klaim kedua dalam unggahan menyebutkan, natrium tinggi mengganggu tenganan darah. Secara prinsip klaim ini benar, namun konteksnya perlu diluruskan, karena, bumbu mie instan memang tinggi natrium.
Kandungan natrium itu dapat mencapai 600-1000 mg per bungkus. Angka ini mendekati batas aman harian atau sekitar 2000-an mg natrium per hari menurut WHO.
Namun, klaim dalam video menyebutkan, natrium larut ke air rebusan. Faktanya, sumber natrium utama itu bumbu yang ditambahkan setelah direbus dan tidak berasal dari mie kering itu sendiri.
“Jadi, air rebusan pertama, ya intinya, sebelum bumbu masuk, natriumnya relatif rendah dibanding air setelah bumbu dicampur.” Begitu keterangan Dicky.
Kemudian, klaim ketiga menyebutkan, pengawet larut dalam air dan memberatkan kerja hati dan ginjal. Klaim ini harus diluruskan. Faktanya, bahan tambahan pangan, termasuk pengawet, seperti pagin misalnya pada mie instan telah diatur dan diawasi oleh Badan POM dengan batas maksimum. Penggunaannya pun sudah di ambang aman, serta mengacu pada Acceptable Daily Intake yang mengatur ke kodeks alimentarius.
Pada dosis sesuai regulasi, tidak ada bukti ilmiah bahwa konsumsi wajar dari mie instan memberatkan kerja hati dan ginjal pada orang sehat. Jadi, klaim ini adalah generalisasi tanpa dasar dosis.
Klaim ke empat menyebutkan, saat memasak mie instan diharuskan membuang air rebusan pertama dan ganti air baru sebelum dibumbui, hal ini boleh dilakukan, tapi bukan karena alasan racun atau lilin.
“Praktek ini aman-aman saja dan bisa membantu mengurangi sedikit kalori atau minyak dan sensasi lebih ringan. Tapi bukan karena menghilangkan racun berbahaya, karena memang tidak ada racun berbahaya di situ. Pada mie instan yang legal beredar dan berizin Badan POM tidak ada racun berbahaya.” Begitu tegasnya.
Kelima, anjuran minum air setelah makan mie akan menetralisir efek garam secara fisiologis menyesatkan. Ini karena air tidak menetralisir natrium secara kimiawi, asupan garam tetap diserap tubuh.
“Yang benar itu cukup minum air putih, akan membantu ginjal membuat kelebihan natrium melalui urin,” ujar Dicky.
Faktanya, fungsi ginjal normal bukan untuk menetralisir dan hanya aktif apabila fungsi ginjal sehat. Dengan demikian, klaim yang menyebutkan unsur natrium tinggi dalam mie itu benar dan layak jadi perhatian. Namun, klaim bahwa kandungan lilin dan air rebusan mie dapat memengaruhi kerja hati ginjal sehingga terganggu, merupakan klaim yang tidak berdasar.
Menurut Badan POM, produk mie instan yang terdaftar resmi di Indonesia dinyatakan aman dikonsumsi karena penggunaan bahan pengawetnya telah diatur ketat dan wajib berada di bawah ambang batas aman. Aturan pengawet pada mie instan dibagi menjadi dua bagian komponen, yaitu pada lembaran mie itu sendiri serta pada bumbu pelengkapnya seperti kecap dan saus.
Badan POM telah melakukan sampling surveillance dan pengujian pada berbagai merek mie instan dari peredaran di 21 provinsi. Hasil pengujian terhadap kandungan methyl p-hydroxybenzoate pada 158 sampel kecap dalam mie instan, adalah 96 sampel yang mengandung methyl p-hydroxybenzoate tidak melebihi 250 mg/kg yaitu batas maksimum yang diijinkan, sedangkan 62 sampel sama sekali tidak mengandung methyl p-hydroxybenzoate.
Berdasarkan hasil pengujian laboratorium tersebut, produk mie instan yang terdaftar dan beredar di Indonesia sudah memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku, serta dinyatakan aman untuk dikonsumsi.
Senada dengan hal itu, Kementerian Kesehatan RI lewat laman resminya mengatakan, produk mie instan di Indonesia aman untuk dikonsumsi. Dalam menetapkan persyaratan, keamanan mutu, serta gizi produk pangan olahan, Indonesia mengacu pada persyaratan internasional yaitu Codex Alimentarius Commision (CAC), termasuk berdasarkan kajian risiko.
Selain itu, penggunaan bahan tambahan pangan diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.722/Menkes/Per/IX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan. Salah satu bahan tambahan pangan yang diatur adalah nipagin (methyl p-hydroxybenzoate) yang berfungsi sebagai pengawet dalam batas maksimum penggunaan, ujar Menkes.
Menkes, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH (Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu II yang menjabat sejak 22 Oktober 2009 hingga 30 April 2012) kepada sejumlah wartawan di Gedung Kementerian Kesehatan tanggal 11 Oktober 2010 mengatakan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) selama 5 tahun terakhir melakukan pengecekan terhadap kecap yang ada dalam produk mie instan. Hasilnya, tidak ditemukan kandungan nipagin yang melebihi batas maksimum yang diijinkan.
Menkes mengimbau masyarakat agar tidak kuatir karena produk pangan yang telah memperoleh izin dari Badan POM sudah memenuhi standar persyaratan, keamanan mutu dan gizi.
Mengonsumsi air rebusan mie instan sebenarnya tidak berbahaya dan aman bagi kesehatan tubuh. Klaim yang menyebutkan bahwa air rebusan tersebut mengandung lapisan lilin berbahaya atau zat kimia beracun telah dinyatakan tidak benar oleh para ahli gizi serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Menurut Ahli Diet Jennifer Shim Poh Wan dalam laman Parkway East Hospital, mie instan adalah jenis mie yang sudah dimasak sebelumnya, biasanya dijual dalam kemasan sachet, cup, atau mangkuk individual.
Mie instan pertama kali dibuat di Jepang pada tahun 1958. Mie instan pertama di dunia diciptakan oleh Momofuku Ando, penemu dan pengusaha Taiwan-Jepang yang mendirikan Nissin Food Products Co. Ltd. Sejak penemuannya, mie instan telah menjadi makanan praktis yang sangat disukai oleh jutaan konsumen di seluruh dunia.
Dalam artikel tersebut Jennifer menjelaskan bahwa mie instan dapat menjadi kurang baik bagi kesehatan jika dikonsumsi terlalu sering karena mengandung natrium yang tinggi, MSG, lemak, dan karbohidrat. Padahal, mie instan relatif rendah serat dan protein, serta tidak menyediakan nutrisi yang lengkap.
Kandungan natrium yang berlebihan tersebut yang menjadi perhatian utama, karena dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan berdampak pada kesehatan jantung, serta ginjal.
Sementara itu, air rebusan mie tidak disebut berbahaya. Risiko yang dibahas, terutama berkaitan dengan kandungan gizi mie dan bumbu secara keseluruhan, khususnya jumlah natrium yang dikonsumsi, bukan semata-mata karena air rebusannya.
Klaim bahwa mie instan dilapisi lilin adalah mitos yang tidak berdasar secara ilmiah, termasuk air rebusan pertama yang mengandung natrium tinggi dan minyak, namun tidak beracun.
Dalam memasak mie instan, membuang air rebusan pertama memang diperbolehkan untuk mengurangi asupan natrium dan lemak, tetapi bukan untuk membuang lilin.
Faktanya, mie instan tidak mengandung lapisan lilin sama sekali. Air rebusan menjadi keruh kekuningan murni karena pati (karbohidrat) dari tepung terigu yang larut serta sisa minyak dari proses penggorengan kering (deep frying) di pabrik.
Video yang beredar, memuat mitos lama yang terus beredar di masyarakat, adapun fakta terkait konsumsi air rebusan mie instan yaitu:
Air rebusan mie instan menjadi keruh kekuningan karena larutnya pati tepung terigu dan minyak goreng dari proses produksi di pabrik, bukan karena lilin.Produk mie instan yang terdaftar di BPOM sudah dinyatakan aman. Mengganti air rebusan pertama hukumnya tidak wajib dan justru bisa membuang vitamin hasil fortifikasi yang larut di dalamnya.Bahaya natrium tinggi murni berasal dari bumbu bubuknya, bukan dari air rebusan mie polos.
Baca juga:Berapa Kalori Nasi Putih dan Mie Instan? Ini
Jadi, menurut Dicky, kandungan lilin ini mitos lama yang berulang kali dibantah, karena mie instan tidak dilapisi lilin. Adapun kilap dalam mie itu berasal dari minyak sisa proses penggorengannya saat produksi.
“Jadi, bukan lilin. Jadi, frasa lilin dalam klaim ini salah.” Begitu tegas Dicky saat dihubungi Tirto, Rabu (5/8/2026).
Kemudian, klaim kedua dalam unggahan menyebutkan, natrium tinggi mengganggu tenganan darah. Secara prinsip klaim ini benar, namun konteksnya perlu diluruskan, karena, bumbu mie instan memang tinggi natrium.
Kandungan natrium itu dapat mencapai 600-1000 mg per bungkus. Angka ini mendekati batas aman harian atau sekitar 2000-an mg natrium per hari menurut WHO.
Namun, klaim dalam video menyebutkan, natrium larut ke air rebusan. Faktanya, sumber natrium utama itu bumbu yang ditambahkan setelah direbus dan tidak berasal dari mie kering itu sendiri.
“Jadi, air rebusan pertama, ya intinya, sebelum bumbu masuk, natriumnya relatif rendah dibanding air setelah bumbu dicampur.” Begitu keterangan Dicky.
Kemudian, klaim ketiga menyebutkan, pengawet larut dalam air dan memberatkan kerja hati dan ginjal. Klaim ini harus diluruskan. Faktanya, bahan tambahan pangan, termasuk pengawet, seperti pagin misalnya pada mie instan telah diatur dan diawasi oleh Badan POM dengan batas maksimum. Penggunaannya pun sudah di ambang aman, serta mengacu pada Acceptable Daily Intake yang mengatur ke kodeks alimentarius.
Pada dosis sesuai regulasi, tidak ada bukti ilmiah bahwa konsumsi wajar dari mie instan memberatkan kerja hati dan ginjal pada orang sehat. Jadi, klaim ini adalah generalisasi tanpa dasar dosis.
Klaim ke empat menyebutkan, saat memasak mie instan diharuskan membuang air rebusan pertama dan ganti air baru sebelum dibumbui, hal ini boleh dilakukan, tapi bukan karena alasan racun atau lilin.
“Praktek ini aman-aman saja dan bisa membantu mengurangi sedikit kalori atau minyak dan sensasi lebih ringan. Tapi bukan karena menghilangkan racun berbahaya, karena memang tidak ada racun berbahaya di situ. Pada mie instan yang legal beredar dan berizin Badan POM tidak ada racun berbahaya.” Begitu tegasnya.
Kelima, anjuran minum air setelah makan mie akan menetralisir efek garam secara fisiologis menyesatkan. Ini karena air tidak menetralisir natrium secara kimiawi, asupan garam tetap diserap tubuh.
“Yang benar itu cukup minum air putih, akan membantu ginjal membuat kelebihan natrium melalui urin,” ujar Dicky.
Faktanya, fungsi ginjal normal bukan untuk menetralisir dan hanya aktif apabila fungsi ginjal sehat. Dengan demikian, klaim yang menyebutkan unsur natrium tinggi dalam mie itu benar dan layak jadi perhatian. Namun, klaim bahwa kandungan lilin dan air rebusan mie dapat memengaruhi kerja hati ginjal sehingga terganggu, merupakan klaim yang tidak berdasar.
Menurut Badan POM, produk mie instan yang terdaftar resmi di Indonesia dinyatakan aman dikonsumsi karena penggunaan bahan pengawetnya telah diatur ketat dan wajib berada di bawah ambang batas aman. Aturan pengawet pada mie instan dibagi menjadi dua bagian komponen, yaitu pada lembaran mie itu sendiri serta pada bumbu pelengkapnya seperti kecap dan saus.
Badan POM telah melakukan sampling surveillance dan pengujian pada berbagai merek mie instan dari peredaran di 21 provinsi. Hasil pengujian terhadap kandungan methyl p-hydroxybenzoate pada 158 sampel kecap dalam mie instan, adalah 96 sampel yang mengandung methyl p-hydroxybenzoate tidak melebihi 250 mg/kg yaitu batas maksimum yang diijinkan, sedangkan 62 sampel sama sekali tidak mengandung methyl p-hydroxybenzoate.
Berdasarkan hasil pengujian laboratorium tersebut, produk mie instan yang terdaftar dan beredar di Indonesia sudah memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku, serta dinyatakan aman untuk dikonsumsi.
Senada dengan hal itu, Kementerian Kesehatan RI lewat laman resminya mengatakan, produk mie instan di Indonesia aman untuk dikonsumsi. Dalam menetapkan persyaratan, keamanan mutu, serta gizi produk pangan olahan, Indonesia mengacu pada persyaratan internasional yaitu Codex Alimentarius Commision (CAC), termasuk berdasarkan kajian risiko.
Selain itu, penggunaan bahan tambahan pangan diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.722/Menkes/Per/IX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan. Salah satu bahan tambahan pangan yang diatur adalah nipagin (methyl p-hydroxybenzoate) yang berfungsi sebagai pengawet dalam batas maksimum penggunaan, ujar Menkes.
Menkes, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH (Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu II yang menjabat sejak 22 Oktober 2009 hingga 30 April 2012) kepada sejumlah wartawan di Gedung Kementerian Kesehatan tanggal 11 Oktober 2010 mengatakan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) selama 5 tahun terakhir melakukan pengecekan terhadap kecap yang ada dalam produk mie instan. Hasilnya, tidak ditemukan kandungan nipagin yang melebihi batas maksimum yang diijinkan.
Menkes mengimbau masyarakat agar tidak kuatir karena produk pangan yang telah memperoleh izin dari Badan POM sudah memenuhi standar persyaratan, keamanan mutu dan gizi.
Mengonsumsi air rebusan mie instan sebenarnya tidak berbahaya dan aman bagi kesehatan tubuh. Klaim yang menyebutkan bahwa air rebusan tersebut mengandung lapisan lilin berbahaya atau zat kimia beracun telah dinyatakan tidak benar oleh para ahli gizi serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Menurut Ahli Diet Jennifer Shim Poh Wan dalam laman Parkway East Hospital, mie instan adalah jenis mie yang sudah dimasak sebelumnya, biasanya dijual dalam kemasan sachet, cup, atau mangkuk individual.
Mie instan pertama kali dibuat di Jepang pada tahun 1958. Mie instan pertama di dunia diciptakan oleh Momofuku Ando, penemu dan pengusaha Taiwan-Jepang yang mendirikan Nissin Food Products Co. Ltd. Sejak penemuannya, mie instan telah menjadi makanan praktis yang sangat disukai oleh jutaan konsumen di seluruh dunia.
Dalam artikel tersebut Jennifer menjelaskan bahwa mie instan dapat menjadi kurang baik bagi kesehatan jika dikonsumsi terlalu sering karena mengandung natrium yang tinggi, MSG, lemak, dan karbohidrat. Padahal, mie instan relatif rendah serat dan protein, serta tidak menyediakan nutrisi yang lengkap.
Kandungan natrium yang berlebihan tersebut yang menjadi perhatian utama, karena dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan berdampak pada kesehatan jantung, serta ginjal.
Sementara itu, air rebusan mie tidak disebut berbahaya. Risiko yang dibahas, terutama berkaitan dengan kandungan gizi mie dan bumbu secara keseluruhan, khususnya jumlah natrium yang dikonsumsi, bukan semata-mata karena air rebusannya.
Klaim bahwa mie instan dilapisi lilin adalah mitos yang tidak berdasar secara ilmiah, termasuk air rebusan pertama yang mengandung natrium tinggi dan minyak, namun tidak beracun.
Dalam memasak mie instan, membuang air rebusan pertama memang diperbolehkan untuk mengurangi asupan natrium dan lemak, tetapi bukan untuk membuang lilin.
Faktanya, mie instan tidak mengandung lapisan lilin sama sekali. Air rebusan menjadi keruh kekuningan murni karena pati (karbohidrat) dari tepung terigu yang larut serta sisa minyak dari proses penggorengan kering (deep frying) di pabrik.
Video yang beredar, memuat mitos lama yang terus beredar di masyarakat, adapun fakta terkait konsumsi air rebusan mie instan yaitu:
Air rebusan mie instan menjadi keruh kekuningan karena larutnya pati tepung terigu dan minyak goreng dari proses produksi di pabrik, bukan karena lilin.Produk mie instan yang terdaftar di BPOM sudah dinyatakan aman. Mengganti air rebusan pertama hukumnya tidak wajib dan justru bisa membuang vitamin hasil fortifikasi yang larut di dalamnya.Bahaya natrium tinggi murni berasal dari bumbu bubuknya, bukan dari air rebusan mie polos.
Baca juga:Berapa Kalori Nasi Putih dan Mie Instan? Ini
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, unggahan yang menyebutkan sejumlah fakta dan tips mengonsumsi air rebusan mie instan, tidak sepenuhnya benar dan perlu diluruskan (partly false).
Badan POM menegaskan, produk mie instan yang terdaftar resmi di Indonesia dinyatakan aman dikonsumsi dan telah diatur ketat.
Faktanya, air rebusan mie instan tidak mengandung sisa lilin yang terlarut. Adapun penyebab keruhnya air bekas rebusan mie, karena larutnya pati tepung terigu dan minyak goreng dari proses produksi.
Walaupun konsumsi natrium atau garam yang berlebih memang meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan memperberat kerja ginjal, namun kadar natrium atau garam dalam mie instan paling banyak disebabkan pemberian bumbu bubuk dan kecap, bukan air bekas rebusan.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Badan POM menegaskan, produk mie instan yang terdaftar resmi di Indonesia dinyatakan aman dikonsumsi dan telah diatur ketat.
Faktanya, air rebusan mie instan tidak mengandung sisa lilin yang terlarut. Adapun penyebab keruhnya air bekas rebusan mie, karena larutnya pati tepung terigu dan minyak goreng dari proses produksi.
Walaupun konsumsi natrium atau garam yang berlebih memang meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan memperberat kerja ginjal, namun kadar natrium atau garam dalam mie instan paling banyak disebabkan pemberian bumbu bubuk dan kecap, bukan air bekas rebusan.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Rujukan
https://www.instagram.com/reel/DSgJV37E4_g/?igsh=MTV0MHNmMzcwa252Ng%3D%3D
https://www.facebook.com/reel/1256440206435156
https://www.facebook.com/reel/2441932012904738
https://www.facebook.com/reel/1375478321225622
https://www.facebook.com/reel/1110508501221091
https://tirto.id/benarkah-makan-mie-instan-bisa-bikin-usus-buntu-ini-jawabannya-hcas
https://www.pom.go.id/siaran-pers/pengawasan-produk-mi-instan-yang-terdaftar-di-indonesia
https://kemkes.go.id/id/produk-mie-instant-di-indonesia-aman-dikonsumsi
https://www.parkwayeast.com.sg/health-plus/article/instant-noodles-health-impact
https://tirto.id/berapa-kalori-nasi-putih-dan-mie-instan-ini-penjelasannya-g2Bb
Publish date : 2026-08-05

