Berita
Murianews, Kudus – Tim Cek Fakta Murianews.com menemukan adanya narasi yang menyebutkan Indonesia telah meninggalkan dolar Amerika Serikat dan beralih ke Yuan China.
Narasi itu salah satunya beredar di platform media sosial TikTok pada 7 Mei 2026 lalu.
”Dunia sedang berubah… dan Indonesia mulai ikut mengubah arah permainan!
Transaksi non-dolar makin besar, kerja sama Rupiah–Yuan makin kuat, bahkan wacana ’dedolarisasi’ makin panas dibahas,” tulis akun tersebut.
Ada juga akun lain di TikTok yang menghembuskan narasi serupa pada 2 Juni 2026.
”RI Tak Percaya Lagi Dengan Dollar AS! Usai Rupiah Anjlok, Kini Purbaya Cabut Dari Dollar AS dan Ganti Pilih Yuan,” demikian narasi yang disebarkan.
Narasi dalam video itu juga mengaitkan pelemahan rupiah dengan langkah pemerintah menerbitkan Panda Bond dalam mata uang yuan China.
Potongan narasi tersebut kemudian digunakan untuk menyimpulkan bahwa Indonesia mulai meninggalkan dolar AS dan beralih ke Yuan.
Sejak beredar, sejumlah warganet mempercayai klaim tersebut saat menanggalkan komentarnya.
Namun, benarkah Indonesia telah beralih dari dolar AS ke yuan China setelah rupiah anjlok? Simak penelusurannya di halaman berikut.
HASIL CEK FAKTA
Tim Cek Fakta Murianews.com mencoba menelusuri narasi yang menyebutkan Indonesia tinggalkan dolar AS dan beralih ke yuan dengan memasukkan kata kunci ”Indonesia beralih ke yuan”.
Hasilnya, tidak terdapat informasi dari sumber maupun media kredibel yang membenarkan narasi tersebut.
Pada konferensi pers di Kompleks Istana Merdeka, 5 Mei 2026, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memang menyinggung penerbitan Panda Bond di China.
Saat itu, Purbaya mengatakan Pemerintah telah menerbitkan Panda Bond di China dengan bunga yang lebih rendah, sehingga tidak lagi terlalu bergantung pada dolar.
Penerbitan Panda Bond sendiri merupakan strategi diversifikasi pembiayaan agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lebih kokoh karena tidak bergantung pada satu sumber tertentu.
Sebagai catatan, realisasi pembiayaan anggaran tercatat sebesar Rp257,4 triliun per 31 Maret 2026. Nilai tersebut terdiri atas pembiayaan utang sebesar Rp258,7 triliun dan pembiayaan non-utang Rp1,3 triliun.
”Kita tetap diversifikasi supaya nggak tergantung pada pembiayaan Amerika Serikat atau negara-negara Barat,” begitu keterangan Purbaya, seperti dikutip dari Antara.
Dalam artikel tersebut, Tim Cek Fakta Murianews.com tidak menemukan pernyataan yang menyebut Indonesia akan meninggalkan dolar AS atau mengganti dolar dengan yuan sebagai mata uang acuan.
Bank Indonesia, dalam siaran persnya, Senin (13/4/2026) lalu, juga menyebutkan telah memperluas implementasi Local Currency Transaction (LCT) dengan berbagai negara mitra. Langkah itu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Meski demikian, Bank Indonesia menyampaikan nilai transaksi LCT hingga akhir 2025 tercatat mencapai USD25,72 miliar atau meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2024.
Selain itu, Bank Indonesia juga menyampaikan cadangan devisa Indonesia masih dihitung dalam USD.
KESIMPULAN
Dengan begitu, berdasarkan penelusuran Tim Cek Fakta Murianews.com narasi yang menyebutkan Indonesia telah meninggalkan dolar AS dan beralih ke yuan China merupakan disinformasi dengan kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.
Dalam penelusuran disebutkan, Pemerintah tidak pernah menyatakan telah meninggalkan dolar AS dan beralih ke yuan China. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memang sempat menyinggung penerbitan Panda Bond di China.
Namun, Penerbitan Panda Bond sendiri merupakan strategi diversifikasi pembiayaan agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lebih kokoh karena tidak bergantung pada satu sumber tertentu.
Hasil penelusuran Tim Cek Fakta Murianews.com terkait narasi Indonesia tinggalkan dolar dan beralih ke yuan. (Dok. Murianews.com)
Publish date : 2026-06-08

