Cek Fakta
    Facebook Twitter Instagram
    Cek Fakta
    • Playbook
    • Tentang Kami
    • Media
    • Kontak
    • Prebunking
    • LMS
    • FAQ
    Facebook Twitter Instagram Youtube
    Wednesday, November 8
    • Playbook
    • Tentang Kami
    • Media
    • Kontak
    • Prebunking
    • LMS
    • FAQ
    Facebook Twitter Instagram Youtube
    CekFakta
    Banner
    • Home
    • Terbaru
    • Kegiatan
    • Debat Pilpres 2024
    • Pilkada 2024
    • Hasil Riset
      • Penelitian
      • Buku
      • Modul Ajar
      • Policy Brief
    CekFakta
    You are at:Home»CekFakta»Keliru, Klaim Penamaan Virus Covid-19 Varian Omicron Diambil dari Nama Bintang ke-15 dan Sinar UV Melindungi Indonesia dari Omicron
    CekFakta

    Keliru, Klaim Penamaan Virus Covid-19 Varian Omicron Diambil dari Nama Bintang ke-15 dan Sinar UV Melindungi Indonesia dari Omicron

    Jane DoePublish date2022-01-10
    Tempo
    Share
    Facebook

    Berita


    Sebuah video pernyataan mantan menteri BUMN, Dahlan Iskan yang mengklaim nama virus covid-19 varian Omicron diambil dari nama bintang ke 15 dan sinar Ultraviolet (UV) melindungi Indonesia dari virus varian ini beredar di facebook.
    Video in i diunggah akun Angelus Solapung II pada 19 Desember 2021 dengan menambahkan narasi:
    “Bersyukurlah Sinar UV (Ultraviolet) di Indonesia bisa menjadi tameng Virus Omicron. #TetapWaspadaTapiJanganPanik. #TetapProkes #KarenaVirusCoronaMasihMengintai #TetapJagaImanImunAman.Amin”.
    Dalam video itu Dahlan Iskan menyebutkan, nama virus Covid-19 varian Omicron diambil dari nama planet atau bintang ke 15 yang disebut Omicron. "Kebetulan Covid 19 varian ke 15 ini huruf O, maka dicarilah nama dengan huruf O. Tetapi karena virus ini kecil dan ada bintang ke 15 yang sudah diberi nama Omicron maka sekalian varian baru Covid-19 diberi nama Omicron. Juga karena harus mencari nama dari o kecil, karena sudah ada Omega, o besar. Nah o kecil itu dalam bahasa Yunani kan disebut Omicron. ," ujar Dahlan.
    Selain itu, Dahlan juga menjelaskan alasan di Indonesia virus Covid-19 varian omicron dinilainya tidak separah di negara lain. Menurut dia alasannya karena sinar ultraviolet (UV) yang menyinari Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara lain. Dahlan bahkan juga mengutip informasi dari seorang ahli virus yang disebutnya bernama Doktor Indro, yang menyampaikan bahwa tingkat sinar Ultraviolet di Indonesia berada pada tingkatan 8 hingga 10 dan tergolong panas. Kondisi ini dinilai yang menyebabkan penyebaran Covid-19 varian Omicron di Indonesia tidak separah negara lain yang juga panas tapi tingkat sinar UV-nya tak setinggi Indonesia.
    Lantas benarkah klaim-klaim terkait virus Covid-19 omicron yang disebutkan dalam video tersebut?

    HASIL CEK FAKTA


    Untuk memeriksa klaim dalam video tersebut, Tempo mula-mula menelusuri jejak digital terkait video tersebut sekaligus memeriksa  informasi terkait asal muasal penamaan  virus Covid-19 varian Omicron dan hubungannya dengan sinar UV dari sumber yang kredibel. 
    Hasilnya diketahui video tersebut identik dengan video yang diunggah akun instragram  @jambiekspres pada 17 Desember 2021. Akun ini menambah narasi “Asal Nama Omicron dan Kaitannya dengan UV. Berikut penjelasan Wartawan Senior sekaligus Founder Jambi Ekspres Bpk Dahlan Iskan. Video : Harian Disway”
    Klaim 1 : Penamaan Virus Covid-19 Varian Omicron Diambil Dari Nama Bintang ke 15
    Dilansir dari The New York Times, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebenarnya mulai menamai varian Covid-19 dengan menggunakan huruf Yunani. Omicron adalah varian Covid-19 yang muncul di Afrika Selatan dinamai berdasarkan huruf ke-15 dari alfabet Yunani. Sistem penamaan ini, yang diumumkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia pada bulan Mei, bertujuan untuk membuat komunikasi publik tentang varian Covid-19  lebih mudah dan tidak membingungkan.
    Misalnya, varian yang muncul di India tidak populer dengan nama B.1.617.2. Sebaliknya, itu dikenal sebagai Delta, huruf keempat dari alfabet Yunani. Sekarang ada tujuh "varian minat" atau "varian perhatian" dan masing-masing memiliki huruf Yunani.
    Beberapa varian lain dengan huruf Yunani tidak mencapai tingkat klasifikasi tersebut, dan WHO juga melewatkan dua huruf tepat sebelum Omicron - "Nu" dan "Xi" - yang mengarah ke spekulasi tentang apakah "Xi" dihindari untuk menghormati presiden China, Xi Jinping.
    “Nu, terlalu mudah dikacaukan dengan baru,” kata seorang juru bicara WHO, Tarik Jasarevic. "Dan 'Xi' tidak digunakan karena itu adalah nama belakang yang umum."
    Dia menambahkan bahwa praktik terbaik badan tersebut untuk penamaan penyakit menyarankan untuk menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan pelanggaran terhadap kelompok budaya, sosial, nasional, regional, profesional atau etnis."WHO telah mempromosikan sistem penamaan yang sederhana dan mudah diakses, tidak seperti nama ilmiah variannya, yang sulit untuk diucapkan dan diingat, dan rentan terhadap kesalahan pelaporan.
    Angela Rasmussen, seorang ahli virologi di Universitas Saskatchewan, mengatakan bahwa dia melakukan banyak wawancara dengan wartawan tahun ini. Sebelum sistem penamaan Yunani diumumkan banyak yang bingung dengan penjelasan tentang varian B.1.1.7 dan B.1.351. Adapun dua varian itu sekarang dikenal sebagai Alpha, yang muncul di Inggris dan Beta, yang muncul di Afrika Selatan.
    “Itu membuatnya sangat rumit untuk dibicarakan ketika Anda terus-menerus menggunakan sup alfabet dengan sebutan varian. Pada akhirnya orang-orang akhirnya menyebutnya varian Inggris atau varian Afrika Selatan,” katanya. Itulah alasan besar lainnya mengapa WHO pindah ke sistem penamaan Yunani.
    Dr. Rasmussen mengatakan: Konvensi penamaan yang lebih lama tidak adil bagi orang-orang di mana virus itu muncul. Agensi menyebut praktik menggambarkan varian berdasarkan tempat mereka terdeteksi sebagai "stigmatisasi dan diskriminatif." Praktik penamaan virus untuk wilayah juga secara historis menyesatkan. Ebola, misalnya, dinamai untuk sungai yang sebenarnya jauh dari tempat virus itu muncul.Dikutip dari usatoday, Pada bulan Mei, WHO mengumumkan akan menggunakan sistem baru untuk penamaan varian untuk menghindari kebingungan dan stigma ke negara-negara di mana varian pertama kali didokumentasikan. Nama ilmiah Omicron sendiri di bawah sistem Pango, dari kelompok Penugasan Filogenetik Bernama Global Outbreak, adalah B.1.1.529, yang menyampaikan informasi ilmiah tentang garis keturunannya.
    WHO mengatakan tujuan penggunaan alfabet Yunani adalah untuk memudahkan dan lebih praktis bagi komunitas non-ilmiah untuk membahas variannya. Menggunakan huruf Yunani sangat membantu ketika berkomunikasi dengan pasien atau anggota staf yang tidak terlatih dalam memahami aspek teknis dari perbedaan varian.
    Memanggil varian dengan nama negara juga dapat menimbulkan stigma yang tidak adil ketika varian tersebut mungkin tidak berasal dari negara tersebut dan baru pertama kali terdeteksi di sana.
    Afrika Selatan melaporkan kasus pertama varian omicron ke WHO pada 24 November. Infeksi pertama yang diketahui berasal dari sampel yang dikumpulkan pada 9 November, tetapi Botswana juga memiliki sampel yang dikumpulkan pada 11 November dengan varian yang ada. WHO mencantumkan "beberapa negara" untuk sampel terdokumentasi paling awal sebagai hasilnya.Penelusuran Tempo, informasi palsu terkait penamaan virus Covid-19 varian Omicrom juga pernah beredar pada pertengah Desember 2021. Sebelumnya penamaan virus Covid-19 varian Omicron sempat dikaitkan dengan nama sebuah video game buatan Microsoft (Bill Gates) pada tahun 1999. Klaim 2 :  Tingkat Sinar UV Tinggi Melindungi Indonesia Dari Virus Covid-19 Varian Omicron
    Dikutip dari Tirto, menurut Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, tidak ada hubungannya penyebaran virus Covid-19 varian Omicron dengan tingkat sinar ultraviolet di Indonesia. Omicron sendiri pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan yang punya cuaca panas seperti Indonesia. Yang jelas varian apapun hanya bisa dicegah dengan vaksinasi, penerapan protokol kesehatan yang ketat dan deteksi dini kalau ada keluhan. Muhamad Fajri Addai, dokter Relawan Covid-19, seperti dilansir liputan6 mengatakan. tidak ada bukti ilmiah manapun yang menyebut varian Omicron tidak menyebar di Indonesia karena tingginya sinar ultraviolet. Faktanya di Singapura dan Malaysia yang negara tetangga Indonesia juga menyebar.  Banyak faktor yang bisa menyebabkan varian Omicron tidak menyebar seperti tingginya vaksinasi, atau di sini mungkin kekebalannya sudah tinggi atau mungkin karena tidak terdeteksi. Tapi bisa saja terjadi lonjakan lagi, tidak ada yang bisa menjamin.
    Di Indonesia sendiri meski memiliki cuaca yang tergolong panas, kasus  Covid-19 varian Omicron (B.1.1.529) seperti dikutip dari katadata, terpantau mengalami peningkatan. Hingga 5 Januari 2021, kasus Covid-19 Omicron di dalam negeri sudah mencapai 254 kasus. Berdasarkan data Newsnodes, jumlah ini menempatkan Indonesia berada di peringkat ketiga tertinggi di Asia Tenggara.   Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebenarnya pernah menyarankan agar tidak menggunakan sinar Ultraviolet untuk membunuh virus. Radiasi ultraviolet (UV) sesungguhnya dapat berdampak buruk pada kesehatan manusia, hewan, organisme laut, dan kehidupan tumbuhan. Pada manusia, peningkatan paparan sinar UV dapat menyebabkan kanker kulit, katarak, dan kerusakan sistem kekebalan.Sinar matahari diketahui mengandung tiga jenis UV. Pertama adal

    KESIMPULAN


    Berdasarkan pemeriksaaan fakta Tempo, klaim bahwa penamaan virus Covid-19 varian Omicron diambil dari nama bintang ke-15 dan sinar Ultraviolet (UV) melindungi Indonesia dari virus varian ini,keliru. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menggunakan penamaan varian Covid-19 seperti Omicron bukan didasarkan pada nama planet atau bintang ke-15, melainkan diambil dari alfabet Yunani demi menghindari kebingungan publik dan stigma. 
    Sementara untuk sinar UV dapat melindungi dari penyebaran virus Covid-19 varian Omicron hingga saat ini diketahui belum ada bukti ilmiah. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI menyatakan, cara mencegah penyebaran covid-19 varian Omicron hanya bisa dicegah dengan vaksinasi, penerapan protokol kesehatan yang ketat dan deteksi dini kalau ada keluhan, bukan dengan sinar UV. Badan Kesehatan Dunia bahkan menyarankan untuk tidak menggunakan sinar UV karena dapat merusak kulit.
    TIM CEKFAKTA TEMPO

    Rujukan

    https://web.facebook.com/100009843482723/videos/580452819715046/?_rdc=1&_rdr

    https://www.instagram.com/p/CXkxlWjhYC-/%20] dan akun tiktok

    https://www.tiktok.com/@jambiekspres/video/7042563204198812954?lang=en&is_copy_url=1&is_from_webapp=v1

    https://www.nytimes.com/2021/11/27/world/africa/omicron-covid-greek-alphabet.html

    https://www.usatoday.com/story/news/health/2021/11/29/omicron-coronavirus-variant-how-to-pronounce/8791980002/

    https://cekfakta.tempo.co/fakta/1603/keliru-penamaan-virus-covid-19-varian-omicron-diambil-dari-video-games-buatan-microsoft-bill-gates-tahun-1999

    https://tirto.id/tidak-benar-sinar-uv-melindungi-indonesia-dari-varian-omicron-gmxD

    https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4810765/cek-fakta-tidak-benar-covid-19-varian-omicron-tidak-menyebar-karena-tingginya-sinar-ultraviolet-di-indonesia

    https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/01/05/kasus-covid-19-omicron-indonesia-tertinggi-ke-3-di-asean-per-5-januari-2022

    https://www.who.int/health-topics/ultraviolet-radiation#tab=tab_1

    https://www.bbc.com/future/article/20200327-can-you-kill-coronavirus-with-uv-light

    https://www.usatoday.com/story/news/factcheck/2020/03/30/fact-check-sunlight-does-not-kill-new-coronavirus/2931170001/

    Publish date : 2022-01-10

    Update Terbaru

    Sidebar Ad
    Update Terbaru
    About
    About

    CekFakta.com adalah sebuah sebuah proyek kolaboratif pengecekan fakta yang diinisiasi Mafindo (Masyarakat Antifitnah Indonesia), AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dan AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia).

    Kolaborasi ini diluncurkan di ‘Trusted Media Summit 2018’ pada Sabtu, 5 Mei 2018 di Jakarta dengan melibatkan puluhan media online di Indonesia serta jejaring ratusan pemeriksa fakta di seluruh Indonesia.

    Facebook Twitter Instagram YouTube
    Informasi
    • Cekfakta.com
    • info@cekfakta.com
    • Whatsapp di 082176503669
    Copyright © 2023. Designed by Cek Fakta.
    • About
    • LMS
    • Contact

    Type Pencarian Judul Enter to search. Press Esc to cancel.