Cek Fakta
    Facebook Twitter Instagram
    Cek Fakta
    • Playbook
    • Tentang Kami
    • Media
    • Kontak
    • Prebunking
    • LMS
    • FAQ
    Facebook Twitter Instagram Youtube
    Wednesday, November 8
    • Playbook
    • Tentang Kami
    • Media
    • Kontak
    • Prebunking
    • LMS
    • FAQ
    Facebook Twitter Instagram Youtube
    CekFakta
    Banner
    • Home
    • Terbaru
    • Kegiatan
    • Debat Pilpres 2024
    • Pilkada 2024
    • Hasil Riset
      • Penelitian
      • Buku
      • Modul Ajar
      • Policy Brief
    CekFakta
    You are at:Home»CekFakta»Sesat, Covid-19 Akan Hilang Seiring Ditemukannya Obat Oral Molnupiravir
    CekFakta

    Sesat, Covid-19 Akan Hilang Seiring Ditemukannya Obat Oral Molnupiravir

    Jane DoePublish date2021-04-15
    Tempo
    Share
    Facebook

    Berita


    Video berdurasi 4 menit yang berisi klaim bahwa Covid-19 akan menghilang seiring dengan ditemukannya obat oral molnupiravir oleh Ridgeback Biotherapeutics dan Merck beredar di grup-grup percakapan WhatsApp sejak 14 April 2021. Video itu memuat berbagai gambar dan video yang menjelaskan rilis uji coba fase 2a obat yang dibuat oleh dua perusahaan tersebut.
    Menurut video itu, uji coba dilakukan terhadap 202 pasien rawat jalan pengidap Covid-19 bergejala. Rilis tersebut menggambarkan temuan pengurangan durasi masa infeksi, hingga menjadi negatif isolasi virus infeksius pada usap nasofaring dari peserta.
    Hal itu terjadi pada hari ke-15 dan, yang lebih menggembirakan, tidak terindikasi adanya multiplisitas dalam kultur virus positif pada subjek yang menerima molnupiravir. Narator dalam video ini juga menyebut bahwa hasil uji klinis fase 3 akan selesai dengan hasil yang sangat bagus.
     Gambar tangkapan layar video yang beredar di WhatsApp yang berisi klaim sesat terkait obat untuk Covid-19.

    HASIL CEK FAKTA


    Berdasarkan pemeriksaan Tim CekFakta Tempo, Ridgeback Biotherapeutics dan Merck memang sedang melakukan uji klinis terhadap kandidat obat Covid-19 yang bernama molnupiravir. Akan tetapi, obat bukan solusi untuk mengendalikan wabah Covid-19.
    Untuk memverifikasi klaim itu, Tempo menelusuri jurnal dan pemberitaan terkait uji klinis molnupiravir. Di laman Clinical Trials milik Perpustakaan Obat Nasional Amerika Serikat, molnupiravir masih dalam uji klinis fase 2a. Uji coba tersebut dilakukan pada pria dan wanita dewasa dengan syarat tertentu.
    Syaratnya adalah mereka telah positif terinfeksi SARS-CoV-2, virus Corona penyebab Covid-19, dalam durasi 144 jam setelah tes polymerase chain reaction (PCR) dan dirawat di rumah sakit dengan diagnosis Covid-19. Studi tersebut dimulai sejak 16 Juni 2020 dan diperkirakan selesai pada 28 Mei 2021.
    Dalam situs resminya, Merck juga menjelaskan bahwa mereka sedang mengembangkan obat molnupiravir (MK-4482). Saat ini, molnupiravir sedang dievaluasi dalam uji klinis fase 2/3 di rumah sakit dan rawat jalan. Tanggal penyelesaian utama untuk studi fase 2/3 adalah Mei 2021. Merck mengantisipasi data kemanjuran awal pada kuartal pertama 2021.
    Namun, menurut kolaborator saintis LaporCovid19, Iqbal Elyazar, pandemi Covid-19 akan berakhir dengan memutus penularan dari orang ke orang. Penggunaan obat hanya digunakan sebagai pengobatan. Dalam penanganan pandemi, pengobatan hanyalah penanganan di bagian hulu. “Jadi, obat bukan solusi kendali wabah,” katanya saat dihubungi pada 15 April 2021.
    Selain itu, untuk membuktikan sebuah obat bekerja secara efektif atau tidak, dibutuhkan uji coba hingga fase 3, melalui standar ilmiah yang telah disepakati oleh para ilmuwan. Setelah uji coba fase 3 pun, sebuah obat harus menjalani post marketing surveillance atau pengawasan selama produk diedarkan. Ini bertujuan untuk mengantisipasi adanya efek samping yang mungkin tidak dijumpai selama uji coba fase 3.

    KESIMPULAN


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Covid-19 akan hilang seiring dengan ditemukannya obat oral molnupiravir, menyesatkan. Ridgeback Biotherapeutics dan Merck memang sedang mengembangkan obat Covid-19 yang bernama molnupiravir. Hasil uji klinis fase 2a menunjukkan bahwa obat itu mampu mengurangi durasi masa infeksi. Akan tetapi, untuk mengetahui efektivitas dari obat tersebut, perlu menunggu selesainya uji coba fase 3 dan masa pengawasan selama produk diedarkan. Selain itu, penggunaan obat tidak menjamin pandemi Covid-19 berakhir.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    https://clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT04405739

    https://www.merck.com/news/merck-discontinues-development-of-sars-cov-2-covid-19-vaccine-candidates-continues-development-of-two-investigational-therapeutic-candidates/

    Publish date : 2021-04-15

    Update Terbaru

    Sidebar Ad
    Update Terbaru
    About
    About

    CekFakta.com adalah sebuah sebuah proyek kolaboratif pengecekan fakta yang diinisiasi Mafindo (Masyarakat Antifitnah Indonesia), AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dan AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia).

    Kolaborasi ini diluncurkan di ‘Trusted Media Summit 2018’ pada Sabtu, 5 Mei 2018 di Jakarta dengan melibatkan puluhan media online di Indonesia serta jejaring ratusan pemeriksa fakta di seluruh Indonesia.

    Facebook Twitter Instagram YouTube
    Informasi
    • Cekfakta.com
    • info@cekfakta.com
    • Whatsapp di 082176503669
    Copyright © 2023. Designed by Cek Fakta.
    • About
    • LMS
    • Contact

    Type Pencarian Judul Enter to search. Press Esc to cancel.