Cek Fakta
    Facebook Twitter Instagram
    Cek Fakta
    • Playbook
    • Tentang Kami
    • Media
    • Kontak
    • Prebunking
    • LMS
    • FAQ
    Facebook Twitter Instagram Youtube
    Wednesday, November 8
    • Playbook
    • Tentang Kami
    • Media
    • Kontak
    • Prebunking
    • LMS
    • FAQ
    Facebook Twitter Instagram Youtube
    CekFakta
    Banner
    • Home
    • Terbaru
    • Kegiatan
    • Debat Pilpres 2024
    • Pilkada 2024
    • Hasil Riset
      • Penelitian
      • Buku
      • Modul Ajar
      • Policy Brief
    CekFakta
    You are at:Home»CekFakta»Keliru, BMKG Imbau Warga Keluar dari Mamuju Karena Akan Ada Gempa Lebih Besar dan Tsunami
    CekFakta

    Keliru, BMKG Imbau Warga Keluar dari Mamuju Karena Akan Ada Gempa Lebih Besar dan Tsunami

    Jane DoePublish date2021-01-21
    Tempo
    Share
    Facebook

    Berita


    Gambar tangkapan layar percakapan WhatsApp berisi klaim bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga keluar dari Mamuju, Sulawesi Barat, beredar di media sosial. Dalam percakapan itu, BMKG juga disebut telah memprediksi bahwa akan terjadi gempa di Mamuju yang lebih besar yang berpotensi menimbulkan tsunami dan likuifaksi.
    Gambar tangkapan layar itu diunggah salah satunya di Facebook pada 17 Januari 2021. "Sudah tepat Bu Kabalai menginstruksikan kami untuk keluar Mamuju. Penjelasan jubir BMKG Pusat bahwa bencana ini akan lebih berpotensi melebihi Palu. BMKG menarget akan ada gempa 7,0 SR atau bisa lebih, dan ada potensi tsunami dan likuifaksi," demikian sebagian isi percakapan WhatsApp tersebut.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook pada 17 Januari 2021 yang berisi klaim keliru terkait gempa Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat

    HASIL CEK FAKTA


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait dengan memasukkan kata kunci “BMKG instruksikan warga keluar dari Mamuju” di mesin pencari Google. Hasilnya, ditemukan penjelasan BMKG yang menyatakan bahwa informasi tersebut hoaks. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati membantah bahwa pihaknya telah mengeluarkan imbauan agar warga keluar dari Mamuju, termasuk klaim bakal adanya tsunami dan likuifaksi.
    "Saya mohon masyarakat, terutama di Mamuju dan sekitarnya, tidak perlu panik dan jangan terpancing oleh isu. Apalagi ada yang mengatakan kekuatannya (gempa) bisa 8,2. Ada lagi yang mengatakan harus keluar dari Mamuju. Tidak pernah BMKG menyatakan hal seperti itu. Salah sama sekali," kata Dwikorita dalam video yang diunggah salah satunya oleh kanal YouTube Reaksi TV | REAKSIPressCOM pada 17 Januari 2021.
    Video klarifikasi Dwikorita ini juga pernah diunggah oleh kanal YouTube milik stasiun televisi Kompas TV pada 18 Januari 2021 dengan judul “Ada Potensi Gempa Susulan, BMKG: Keluar dari Rumah, Bukan dari Mamuju”. Terkait isu akan adanya gempa susulan yang kekuatannya melebihi gempa yang pernah terjadi di Palu, Dwikorita membantahnya. "Iya, hoaks," katanya pada 17 Januari 2021.
    Menurut Dwikorita, gempa susulan memang masih bisa terjadi, namun dengan kekuatan yang lebih kecil atau kurang lebih sama dengan gempa yang sudah terjadi kemarin. Kendati demikian, Dwikorita mengimbau masyarakat untuk tidak panik. "Selama mereka berada di tempat yang tidak mudah roboh, itu aman. Kalau merasa tidak yakin bangunannya, segera keluar dari rumah, bukan keluar dari Mamuju," katanya. Ia juga mengimbau masyarakat untuk menjauhi pantai ketika terasa ada guncangan gempa.
    Penjelasan Dwikorita itu juga dimuat oleh situs media Terkini.id Makassar pada 17 Januari 2021. Dwikorita memastikan bahwa isu tersebut tidak benar. "Enggak benar, (yang benar itu) keluar dari rumah mencari tempat yang aman, di tempat yang lapang yang datar, bukan keluar dari Mamuju, saya saja di Mamuju,” kata Dwikorita.
    Dwikorita pun meluruskan informasi yang menyebut adanya potensi gempa di Mamuju dengan magnitudo lebih dari 7 yang bisa menimbulkan tsunami dan likuifaksi, sehingga masyarakat diimbau untuk meninggalkan wilayah Mamuju. “Mohon diluruskan, tidak begitu (keluar dari Mamuju). Tadi malam (saat rapat koordinasi), (saya) enggak ngomong begitu. Banyak saksinya,” ujar Dwikorita.
    Fenomena gempa Sulbar
    Berdasarkan arsip berita Tempo, BMKG mencatat fenomena yang tidak biasa dari gempa di Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat, beberapa waktu yang lalu. Jumlah gempa susulannya tercatat lebih sedikit dibandingkan gempa lain sebelumnya dengan kekuatan yang hampir sama. Itu memunculkan pertanyaan, apakah gempa sudah berakhir dan normal kembali atau sebaliknya.
    Koodinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengungkapkan, hingga hari kedua, yakni pada 16 Januari 2021, lindu susulan gempa Mamuju dan Majene berjumlah 33 kali. Hitungan itu dimulai sejak muncul gempa bermagnitudo 5,9 pada 14 Januari 2021 pukul 13.35 WIB. Adapun jika dihitung dari gempa kedua yang lebih kuat, yaitu yang bermagnitudo 6,2 pada 15 Januari 2021 pukul 01.28 WIB, gempa susulannya sebanyak 23 kali.
    Gempa susulan sebanyak itu tercatat hingga kejadian lindu susulan pada 16 Januari 2021 pukul 17.45 WIB yang mengguncang wilayah Majene dan Mamuju. Sumber gempa bermagnitudo 3,4 itu berada di darat dengan jarak sekitar 17 kilometer sebelah timur laut Majene dengan kedalaman 10 kilometer. Merujuk hingga gempa susulan yang ke-32 beberapa jam sebelumnya, Daryono mengatakan, "Pusat gempa ini relatif sedikit bergeser ke utara dari kluster seismisitas yang sudah terpetakan."
    Menurut Daryono, serangkaian gempa susulan di Mamuju dan Majene itu jumlahnya terhitung rendah. BMKG membandingkannya dengan gempa kuat di kerak dangkal sebelumnya di tempat lain dengan kekuatan yang sama. Pada hari kedua, jumlah gempa susulannya bisa mencapai 100 kali.
    Selain mekanisme gempanya belum tentu sama, BMKG tidak memiliki riwayat gempa Majene  dan Mamuju sebelumnya sebagai pembanding kondisi sekarang. “Fenomena ini jadinya agak aneh dan kurang lazim,” kata Daryono sambil memastikan kemampuan BMKG mendeteksi hingga gempa-gempa yang lemah di kawasan itu.
    Menurut Daryono, hanya terdapat dua kemungkinan jawabannya. Pertama, telah terjadi proses disipasi. Ini adalah kondisi di mana medan tegangan di zona gempa sudah habis, sehingga kondisi tektonik kemudian menjadi stabil dan kembali normal. Atau, kemungkinan kedua, yaitu masih tersimpannya medan tegangan yang belum ke luar sehingga masih memungkinkan terjadinya gempa kuat. “Fenomena ini membuat kita menaruh curiga, sehingga kita patut waspada,” kata Daryono.
    Pengukuran besaran medan tegangan yang sesungguhnya dan perubahan pada kulit bumi setelah gempa, dia menerangkan, masih sulit dilakukan. Kajiannya baru bisa dilakukan secara spasial dan temporal. “Inilah perilaku gempa, sulit diprediksi dan menyimpan banyak ketidakpastian.”

    KESIMPULAN


    Berdasarkan penelusuran fakta Tempo, klaim bahwa BMKG mengimbau warga keluar dari Mamuju karena akan terjadi gempa yang lebih besar yang berpotensi menimbulkan tsunami dan likuifaksi, keliru. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati telah memastikan bahwa informasi tersebut hoaks. Dwikorita menyatakan, bila terjadi gempa susulan, pihaknya mengimbau warga untuk kelur dari rumah, bukan dari Mamuju.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    https://www.tempo.co/tag/mamuju

    https://archive.vn/80hdk

    https://bit.ly/2XYncD4

    https://bit.ly/3c0sWEW

    https://bit.ly/3bZEzvy

    https://bit.ly/3bYzWSx

    https://www.tempo.co/tag/gempa-mamuju

    https://www.tempo.co/tag/majene

    https://www.tempo.co/tag/gempa-majene

    https://www.tempo.co/tag/gempa-majene

    https://en.tempo.co/tag/bmkg

    Publish date : 2021-01-21

    Update Terbaru

    Sidebar Ad
    Update Terbaru
    About
    About

    CekFakta.com adalah sebuah sebuah proyek kolaboratif pengecekan fakta yang diinisiasi Mafindo (Masyarakat Antifitnah Indonesia), AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dan AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia).

    Kolaborasi ini diluncurkan di ‘Trusted Media Summit 2018’ pada Sabtu, 5 Mei 2018 di Jakarta dengan melibatkan puluhan media online di Indonesia serta jejaring ratusan pemeriksa fakta di seluruh Indonesia.

    Facebook Twitter Instagram YouTube
    Informasi
    • Cekfakta.com
    • info@cekfakta.com
    • Whatsapp di 082176503669
    Copyright © 2023. Designed by Cek Fakta.
    • About
    • LMS
    • Contact

    Type Pencarian Judul Enter to search. Press Esc to cancel.