Cek Fakta
    Facebook Twitter Instagram
    Cek Fakta
    • Playbook
    • Tentang Kami
    • Media
    • Kontak
    • Prebunking
    • LMS
    • FAQ
    Facebook Twitter Instagram Youtube
    Wednesday, November 8
    • Playbook
    • Tentang Kami
    • Media
    • Kontak
    • Prebunking
    • LMS
    • FAQ
    Facebook Twitter Instagram Youtube
    CekFakta
    Banner
    • Home
    • Terbaru
    • Kegiatan
    • Debat Pilpres 2024
    • Pilkada 2024
    • Hasil Riset
      • Penelitian
      • Buku
      • Modul Ajar
      • Policy Brief
    CekFakta
    You are at:Home»Misleading Content»[SALAH] Vaksin Mengandung Racun Berbahaya
    Misleading Content

    [SALAH] Vaksin Mengandung Racun Berbahaya

    Jane DoePublish date2021-07-26
    Share
    Facebook

    Berita

    Wah wah wah mantap nih tagar

    #PresidenTerburukDalamSejarah

    *video bersumber dari TikTok berdurasi 1 menit 4 detik
    wajib simak ampe habis
    jangan mudah percaya klw tdak percaya.aplgi cmn katanya katanya. tetaplh dg kta hatimu dan fakta2. di sini paham!

    Tujuan pandemi ini sejak awal adalah vaksinasi
    jadi semuanya mengarah pada vaksinasi
    mereka telah melakukan vaksin paksa pada negara-negara di Asia Tenggara
    dan di negara-negara eropa juga telah diwajibkan
    maksudku ada pihak yang membayar Pemerintah agar menyuntikan racun ini kepada masyarakat
    saking hausnya para pemangku kepentingan agar masyarakat divaksin
    itu sebabnya vaksin ini digratiskan bagi masyarakat
    ada orang-orang dibalik layar yang ingin agar semua orang disuntik
    kenapa Seperti itu?
    kenapa mereka ingin racun ini masuk ke darah kita ?
    jadi tekanan yang dirasakan oleh Masyarakat saat ini
    yaitu mereka akan dipecat jika tidak divaksin
    tapi masyarakat tahu bahwa vaksin ini bisa membunuh mereka
    kalau tidak ada efek samping ya pasti masuk akal untuk menerimanya

    apakah vaksin berbahaya
    vaksin mengandung racun
    vaksin racun
    racun vaksin
    hoax vaksin
    Vaksin sinovac menyebabkan kematian

    HASIL CEK FAKTA

    Beredar postingan di Twitter berupa video oleh akun @Ibeen16, video yang diunggahnya terlihat seorang bernama ” Dr. Peter McCullough” yang dalam video tersebut diketahui McCullough mempermasalahkan vaksinasi yang dilakukan pemerintah. McCullough menganggap bahwa program vaksinasi dirancang untuk keuntungan pihak tertentu, mereka bekerja sama dengan pemerintah dan memaksakan rakyat untuk divaksin. Sesuai dengan terjemahan dalam video tersebut, McCullough mengatakan “racun”sebanyak 2 kali, yang mana kata “racun” mengarah pada vaksin.

    Selain itu, deskripsi dalam video juga berusaha menggiring penonton untuk percaya ungkapan McCullough. Video tersebut beredar di tengah program vaksinasi yang sedang gencar dilakukan pemerintah untuk menghentikan pandemi. Postingan @Ibeen16 disertai dengan tagar #PresidenTerburukDalamSejarah, yang beberapa hari lalu sempat menjadi trending topik.

    Untuk mengetahui konteks pembicaraan dari potongan video tersebut, dilakukan pencarian melalui Google, dan ditemukan full video beserta transkripnya disini (https://archive.vn/aSZIp).

    Dalam video berdurasi 1 jam 45 menit tersebut, memperlihatkan Dr. Peter McCullough diinterview oleh John Leake. Pernyataan McCullough sebenarnya tidak berkata “racun” secara langsung sebagaimana terjemahan dalam video @Ibeen16. Namun McCullough jelas mengklaim bahwa vaksin berbahaya dan dapat menyebabkan pembekuan darah, stroke, dan kematian mendadak. Ia juga mengklaim kematian dan penuhnya rumah sakit disebabkan karena vaksinasi.

    Meski begitu pernyataan McCullough adalah HOAX.

    Dr. Peter McCullough mengaku sebagai dokter ahli penyakit jantung dan penyakit dalam dari Texas, Amerika Serikat, ia juga Profesor di Fakultas Kedokteran A&M College of Medicine, The Baylor Dallas, Texas.

    Meski mengaku seorang dokter, ia memiliki riwayat menyebarkan informasi bohong mengenai pandemi dan vaksin Covid-19, khususnya vaksinasi yang dilakukan di Amerika Serikat. Adapun klaimnya di antaranya adalah orang-orang di bawah 50 tahun tidak perlu divaksin, orang yang sembuh dari Covid-19 tidak perlu divaksin, vaksin Pfizer dan Moderna menggunakan program aplikasi komputer, serta vaksin berbahaya karena menyebabkan kematian.

    Semua klaimnya adalah hoax. Apabila vaksin memang berbahaya, maka akan terjadi kematian massal di Amerika Serikat. Dilansir dari Our World in Data, sebanyak 50% warganya sudah divaksin 2 dosis, hampir mendekati target yang dicanangkan yakni 70%. Dilansir dari The New York Times, Amerika Serikat mengalami tren penurunan jumlah kematian akibat Covid-19 dari bulan April hingga Juli 2021. Kota New York yang sempat menjadi episentrum virus Corona di Amerika Serikat mulai melonggarkan aturan pembatasan jarak sosial, hal itu dikarenakan terjadi penurunan kasus positif dan banyaknya warga yang sudah divaksin. Bersumber dari kumparan, justru 99% kasus kematian akibat Covid-19 di Amerika Serikat adalah orang yang belum divaksin.

    Adapun jenis vaksin yang banyak digunakan di Indonesia yakni AstraZeneca dan Sinovac terbukti aman digunakan, karena sudah melalui uji klinis. Dilansir dari situs resmi Kementrian Kesehatan, vaksin Sinovac telah memenuhi standar WHO untuk keamanan, efikasi, dan pembuatan. Selain itu, WHO dan BPOM juga telah memasukkan Sinovac ke Daftar Penggunaan Darurat (EUL) bersama vaksin AstraZeneca, Pfizer, Moderna dan Sinopharm.

    Menurut Dirga Sakti Rambe, Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang berfokus di bidang vaksinologi, penggunaan vaksin memang memiliki efek samping, namun kebermanfaatannya lebih banyak dan minim resiko. Adapun klaim bahwa orang yang mendapat vaksin AstraZeneca mengalami pembekuan darah hanyalah beberapa saja yakni 10 dari 1 juta orang.

    Berdasarkan data yang terkumpul, klaim bahwa vaksin mengandung racun berbahaya adalah HOAX dan termasuk kategori Konten yang Menyesatkan.

    KESIMPULAN

    Hasil Periksa Fakta Ani Nur MR (Universitas Airlangga).

    Informasi Palsu. Juru bicara vaksinasi melalui situs covid.go.id, menginformasikan bahwa vaksin yang diedarkan massal tentu aman, karena syarat sebelum diedarkan harus melalui berbagai tahap uji klinis dan memenuhi standar aman, ampuh, stabil dan efisien dari segi biaya. Adapun Pemerintah Indonesia hanya membeli vaksin Covid-19 yang telah lolos uji klinis dan sudah mendapatkan Izin Penggunaan Pada Masa Darurat (Emergency Use of Authorization/EUA) dari BPOM.

    Rujukan

    https://covid19.go.id/tanya-jawab?page=2

    https://factcheck.afp.com/us-cardiologist-makes-false-claims-about-covid-19-vaccination

    https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/tren/read/2021/06/28/115800965/hoaks-vaksin-pfizer-dan-moderna-tak-gunakan-virus-tetapi-program-aplikasi

    https://ourworldindata.org/covid-vaccinations

    https://m.mediaindonesia.com/internasional/402811/new-york-mulai-longgarkan-pembatasan-sosial-terkait-covid-19

    https://www.google.com/amp/s/m.kumparan.com/amp/kumparannews/dr-fauci-99-2-persen-kematian-akibat-corona-di-as-warga-yang-belum-divaksin-1w4chqaa0zz

    https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/berita-utama/20210602/2737867/validasi-sinovac-oleh-who-bukti-vaksin-aman-teruji-mutu/

    https://www.kompas.com/sains/read/2021/06/16/110000023/apa-yang-dimaksud-vaksin-aman-padahal-tetap-ada-efek-sampingnya?page=all#page3

    Publish date : 2021-07-26

    Update Terbaru

    Sidebar Ad
    Update Terbaru
    About
    About

    CekFakta.com adalah sebuah sebuah proyek kolaboratif pengecekan fakta yang diinisiasi Mafindo (Masyarakat Antifitnah Indonesia), AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dan AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia).

    Kolaborasi ini diluncurkan di ‘Trusted Media Summit 2018’ pada Sabtu, 5 Mei 2018 di Jakarta dengan melibatkan puluhan media online di Indonesia serta jejaring ratusan pemeriksa fakta di seluruh Indonesia.

    Facebook Twitter Instagram YouTube
    Informasi
    • Cekfakta.com
    • info@cekfakta.com
    • Whatsapp di 082176503669
    Copyright © 2023. Designed by Cek Fakta.
    • About
    • LMS
    • Contact

    Type Pencarian Judul Enter to search. Press Esc to cancel.