Berita
SEJUMLAH unggahan di Instagram [arsip], Facebook dan TikTok mengklaim bahwa National Aeronautics and Space Administration (NASA) berhenti meneliti lautan sejak 1978. Narasi tersebut menyebut NASA kini hanya berfokus pada misi ruang angkasa setelah mengalihkan seluruh sumber dayanya dari eksplorasi laut.
Dalam unggahan itu disebutkan, NASA mendadak menghentikan ekspolarasi saat baru memantau sekitar lima persen wilayah perairan. "Mengapa mereka berhenti menyelam ke kedalaman? Apa yang mereka temukan hingga membuat mereka takut," tulis pengunggah konten.
Namun, benarkah NASA menghentikan penelitian laut pada 1978 setelah menemukan sesuatu yang menakutkan?
Dalam unggahan itu disebutkan, NASA mendadak menghentikan ekspolarasi saat baru memantau sekitar lima persen wilayah perairan. "Mengapa mereka berhenti menyelam ke kedalaman? Apa yang mereka temukan hingga membuat mereka takut," tulis pengunggah konten.
Namun, benarkah NASA menghentikan penelitian laut pada 1978 setelah menemukan sesuatu yang menakutkan?
HASIL CEK FAKTA
Tempo memverifikasi narasi tersebut dengan menelusuri berbagai sumber otoritatif. Sejak awal, pemerintah Amerika Serikat membentuk National Aeronautics and Space Administration (NASA) dengan misi utama memperkuat teknologi antariksa. Meski demikian, lembaga ini tetap menjalankan riset lautan sebagai bagian dari upaya membandingkan kondisi fisik Bumi dengan planet lainnya.
Tujuan Pembentukan NASA
Laman Museum Penerbangan Nasional mencatat bahwa Negeri Abang Sam awalnya membentuk lembaga independen bernama National Advisory Committee for Aeronautics (NACA) pada 1915 guna meneliti dunia penerbangan. Pemerintah Amerika Serikat kemudian mengganti komite tersebut menjadi NASA pada 1 Oktober 1958 untuk menyaingi teknologi antariksa Uni Soviet yang lebih dulu meluncurkan wahana Sputnik di era Cold War.
Time melaporkan bahwa pendirian NASA berpijak pada National Aeronautics and Space Act. Undang-undang tersebut memandatkan NASA untuk meneliti masalah penerbangan di dalam maupun di luar atmosfer Bumi serta tujuan strategis lainnya, termasuk meredam persaingan riset antar-angkatan bersenjata. NASA berfungsi sebagai pusat penelitian yang menyatukan berbagai unit riset militer Amerika Serikat yang sebelumnya mengembangkan teknologi jet dan satelit secara terpisah.
Ensiklopedia Britannica menjelaskan bahwa baik NACA maupun NASA tidak memiliki misi spesifik untuk penjelajahan bawah laut. Sejak berdiri, lembaga ini memfokuskan sumber dayanya pada eksplorasi antariksa melalui berbagai misi ikonik seperti Apollo, Viking, Mariner, Voyager, dan Galileo.
Penelitian Laut oleh NASA
Dalam menjalankan misinya, NASA turut meneliti lautan untuk mendukung pengembangan teknologi antariksa. Pada 1978, lembaga ini meluncurkan satelit khusus guna memantau kondisi lautan di Bumi. Satelit tersebut bertugas mengukur ketinggian wahana antariksa di atas permukaan laut, kecepatan, serta arah angin.
Kemampuan satelit ini mencakup pengukuran suhu permukaan laut, identifikasi fitur awan dan daratan, serta pemantauan medan gelombang permukaan global dan kondisi es kutub. NASA mempelajari lapisan es kutub sebagai referensi untuk mengeksplorasi kondisi serupa di planet lain.
Pemeriksa fakta Reuters melaporkan bahwa NASA pernah menggelar misi bersama pada 2018 untuk mengamati interaksi organisme mikroskopis di laut dalam. Wilayah laut dalam merupakan area di bawah permukaan air dengan penetrasi cahaya yang memudar cepat, yakni mulai kedalaman 200 meter atau sekitar 656 feet.
Tujuan Pembentukan NASA
Laman Museum Penerbangan Nasional mencatat bahwa Negeri Abang Sam awalnya membentuk lembaga independen bernama National Advisory Committee for Aeronautics (NACA) pada 1915 guna meneliti dunia penerbangan. Pemerintah Amerika Serikat kemudian mengganti komite tersebut menjadi NASA pada 1 Oktober 1958 untuk menyaingi teknologi antariksa Uni Soviet yang lebih dulu meluncurkan wahana Sputnik di era Cold War.
Time melaporkan bahwa pendirian NASA berpijak pada National Aeronautics and Space Act. Undang-undang tersebut memandatkan NASA untuk meneliti masalah penerbangan di dalam maupun di luar atmosfer Bumi serta tujuan strategis lainnya, termasuk meredam persaingan riset antar-angkatan bersenjata. NASA berfungsi sebagai pusat penelitian yang menyatukan berbagai unit riset militer Amerika Serikat yang sebelumnya mengembangkan teknologi jet dan satelit secara terpisah.
Ensiklopedia Britannica menjelaskan bahwa baik NACA maupun NASA tidak memiliki misi spesifik untuk penjelajahan bawah laut. Sejak berdiri, lembaga ini memfokuskan sumber dayanya pada eksplorasi antariksa melalui berbagai misi ikonik seperti Apollo, Viking, Mariner, Voyager, dan Galileo.
Penelitian Laut oleh NASA
Dalam menjalankan misinya, NASA turut meneliti lautan untuk mendukung pengembangan teknologi antariksa. Pada 1978, lembaga ini meluncurkan satelit khusus guna memantau kondisi lautan di Bumi. Satelit tersebut bertugas mengukur ketinggian wahana antariksa di atas permukaan laut, kecepatan, serta arah angin.
Kemampuan satelit ini mencakup pengukuran suhu permukaan laut, identifikasi fitur awan dan daratan, serta pemantauan medan gelombang permukaan global dan kondisi es kutub. NASA mempelajari lapisan es kutub sebagai referensi untuk mengeksplorasi kondisi serupa di planet lain.
Pemeriksa fakta Reuters melaporkan bahwa NASA pernah menggelar misi bersama pada 2018 untuk mengamati interaksi organisme mikroskopis di laut dalam. Wilayah laut dalam merupakan area di bawah permukaan air dengan penetrasi cahaya yang memudar cepat, yakni mulai kedalaman 200 meter atau sekitar 656 feet.
KESIMPULAN
Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan NASA menyetop penelusuran laut dalam sejak tahun 1978 karena ketakutan akan temuan tertentu adalah klaim menyesatkan.
Rujukan
https://www.instagram.com/p/DQrVSMCkm4y/
https://www.facebook.com/watch/?v=1307663074471525
https://www.tiktok.com/@vampiretalk.id/photo/7569243585841728788?_r=1&_t=ZS-92nFAiPdHrL
Publish date : 2026-01-19

