Cek Fakta
    Facebook Twitter Instagram
    Cek Fakta
    • Playbook
    • Tentang Kami
    • Media
    • Kontak
    • Prebunking
    • LMS
    • FAQ
    Facebook Twitter Instagram Youtube
    Wednesday, November 8
    • Playbook
    • Tentang Kami
    • Media
    • Kontak
    • Prebunking
    • LMS
    • FAQ
    Facebook Twitter Instagram Youtube
    CekFakta
    Banner
    • Home
    • Terbaru
    • Kegiatan
    • Debat Pilpres 2024
    • Pilkada 2024
    • Hasil Riset
      • Penelitian
      • Buku
      • Modul Ajar
      • Policy Brief
    CekFakta
    You are at:Home»CekFakta»Pernyataan Gus Dur soal "KPU Isinya Maling" Disebar dengan Konteks Keliru
    CekFakta

    Pernyataan Gus Dur soal "KPU Isinya Maling" Disebar dengan Konteks Keliru

    Jane DoePublish date2024-03-13
    Kompas
    Share
    Facebook

    Berita

    KOMPAS.com - Beredar video Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengkritik Komisi Pemilihan Umum (KPU).

    Dalam video yang dibagikan akun Instagram ini, pada 9 Maret 2024, Gus Dur menyebut "KPU isinya maling". 

    "Sampai pun kepada pemilu, kita tidak berani tegas. KPU isinya maling. Bagaimana kita ini, kayak begini ini," kata Gus Dur.

    Lantas, bagaimana konteks dari pernyataan itu?

    Tim Cek Fakta Kompas.com mencermati pria berbaju hitam yang duduk di dekat Gus Dur adalah Emha Ainun Najib atau Cak Nun.

    Kemudian, Kompas.com menelusuri video Cak Nun dan Gus Dur dalam satu panggung panggung.

    Hasilnya, video dengan durasi lebih panjang diunggah oleh kanal YouTube Sis Andy, pada 9 September 2008, dengan judul "Cak Nun dan Kiai Kanjeng GO TO CAMPUS TRISAKTI".

    Video itu dibagi menjadi lima bagian, dengan masing-masing berdurasi 9 menit 18 detik.

    Dalam video pertama disebutkan, acara yang dihadiri Cak Nun dan Gus Dur digelar di Universitas Trisakti, Jakarta, pada 10 Februari 2006.

    Ucapan "KPU isinya maling" yang disampaikan Gus Dur ditemukan pada video ketiga. Ucapan itu merupakan bagian dari kritik Gus Dur terhadap reformasi yang tidak tuntas.

    Menurut Gus Dur, Reformasi 1998 yang berawal dari gerakan mahasiswa tidak berhasil menciptakan sistem pemerintahan yang baru, sehingga hasilnya setengah-setengah.

    "Akibatnya sekarang kita yang kepayahan. Pertama, kedaulatan hukum enggak ada. Karena apa? Karena tidak ada ketaatan kepada undang-undang dan peraturan-peraturan. Bahkan, koruptor aja tergantung kerelaan untuk diurus," kata Gus Dur.

    "Jadi semuanya itu serba tanggung gara-gara enggak ada sistem pemerintahan atau sistem politik yang baru. Sampai pun kepada pemilu kita tidak berani tegas. KPU isinya maling. Bagaimana kita ini kayak begini ini. Jadinya akhirnya enggak karu-karuan," tutur dia.

    HASIL CEK FAKTA

    KESIMPULAN

    Rujukan

    https://www.instagram.com/p/C4RZxn-Prph/

    https://www.youtube.com/@syswandy/videos

    https://www.youtube.com/watch?v=ITSLSOCmRck&t=8s

    https://www.youtube.com/watch?v=K4HAmCOoF5M

    https://t.me/kompascomupdate

    Publish date : 2024-03-13

    Update Terbaru

    Sidebar Ad
    Update Terbaru
    About
    About

    CekFakta.com adalah sebuah sebuah proyek kolaboratif pengecekan fakta yang diinisiasi Mafindo (Masyarakat Antifitnah Indonesia), AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dan AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia).

    Kolaborasi ini diluncurkan di ‘Trusted Media Summit 2018’ pada Sabtu, 5 Mei 2018 di Jakarta dengan melibatkan puluhan media online di Indonesia serta jejaring ratusan pemeriksa fakta di seluruh Indonesia.

    Facebook Twitter Instagram YouTube
    Informasi
    • Cekfakta.com
    • info@cekfakta.com
    • Whatsapp di 082176503669
    Copyright © 2023. Designed by Cek Fakta.
    • About
    • LMS
    • Contact

    Type Pencarian Judul Enter to search. Press Esc to cancel.