Cek Fakta
    Facebook Twitter Instagram
    Cek Fakta
    • Playbook
    • Tentang Kami
    • Media
    • Kontak
    • Prebunking
    • LMS
    • FAQ
    Facebook Twitter Instagram Youtube
    Wednesday, November 8
    • Playbook
    • Tentang Kami
    • Media
    • Kontak
    • Prebunking
    • LMS
    • FAQ
    Facebook Twitter Instagram Youtube
    CekFakta
    Banner
    • Home
    • Terbaru
    • Kegiatan
    • Debat Pilpres 2024
    • Pilkada 2024
    • Hasil Riset
      • Penelitian
      • Buku
      • Modul Ajar
      • Policy Brief
    CekFakta
    You are at:Home»CekFakta»Keliru, Gempa Turki Berasal dari Langit, Akibat HAARP
    CekFakta

    Keliru, Gempa Turki Berasal dari Langit, Akibat HAARP

    Jane DoePublish date2023-03-10
    Tempo
    Share
    Facebook

    Berita


    Sebuah akun media sosial Facebook mengunggah video singkat tentang gempa Turki dan mengklaim disebabkan gelombang elektromagnetik, HAARP (High-frequency Active Auroral Research Program). Unggahan tersebut juga menampilkan robohnya bangunan seperti ditekan oleh kekuatan besar dari atas langit dan benda-benda di atas meja tidak bergerak ke samping.

    “Sangat berbeda bila gempa terjadi dari dalam bumi. La hawla wala quwwata illa billah. Dan ternyata memang agenda mereka di tahun 2023 akan menghapus 50% populasi penduduk dunia,” demikian narasi yang menyertai. 
    Benarkah klaim bahwa gempa Turki yang terjadi bulan Februari 2023 lalu berasal dari langit?

    HASIL CEK FAKTA


    Dari berbagai penelitian geologi telah menunjukkan bahwa gempa di Turki bukan karena HAARP.  
    Menurut analisis Survei Geologi Amerika Serikat, USGS, gempa Turki 2023 disebabkan karena pergerakan relatif tiga lempeng tektonik utama yakni Lempeng Arab, Eurasia, dan Afrika serta satu blok tektonik yang lebih kecil yakni Sesar Anatolia. 

    Lempeng tektonik adalah lempengan batu besar di kerak bumi dengan ketebalan 10 mil hingga 160 mil yang selalu bergerak secara perlahan. Gempa bumi terjadi di sepanjang batas-batas lempeng ini.
    Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNDRR) merilis bahwa pada gempa Turki, zona Patahan Anatolia Timur, bergerak dengan jenis gerakan strike-slip lateral kiri. Patahan ini relatif lebih tenang dibandingkan dengan tetangganya di utara selama sekitar satu abad terakhir.
    Menurut Ensiklopedia Britannica, strike-slip lateral adalah patahan pada batuan kerak bumi di mana massa batuan tergelincir satu sama lain sejajar dengan sesar, perpotongan permukaan batuan dengan permukaan atau bidang horizontal lainnya. Patahan ini disebabkan oleh kompresi horizontal, tetapi melepaskan energinya melalui pergeseran batuan pada arah horizontal yang hampir sejajar dengan gaya kompresi. 

    Tentang HAARP
    Dalam artikel Cek Fakta Tempo sebelumnya, Robert McCoy, Direktur Lembaga Geofisika di Universitas Alaska Fairbanks, dikutip dari Climate Feedback, mengatakan bahwa High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) adalah pemancar frekuensi yang pada dasarnya adalah radio gelombang pendek. Alat ini digunakan untuk melakukan eksperimen pada petak 100 x 100 kilometer di atas ionosfer. 
    Transmisi dari HAARP hanya menyebabkan efek kecil di ionosfer yang berlangsung beberapa detik. Selain itu, fasilitas ini hanya dioperasikan beberapa jam setiap tahun. Jumlah energi frekuensi tinggi yang berasal dari operator radio amatir di seluruh dunia hampir pasti melebihi transmisi dari HAARP. 
    “HAARP tidak dapat mempengaruhi fenomena alam yang disebutkan dalam artikel, seperti gempa bumi dan badai salju, dan tidak mungkin dapat berinteraksi dengan manusia atau mempengaruhinya,” kata Robert.
    AFP melansir, HAARP berfokus meneliti sifat dan perilaku ionosfer. Ionosfer, seperti dijelaskan NASA di sini, adalah lapisan atmosfer bumi teratas sebelum ruang angkasa. Jeffrey Hughes, profesor astronomi di Universitas Boston, menuturkan kepada AFP bahwa gelombang radio HAARP memanaskan ionosfer dalam wilayah terbatas, sekitar 100 km.  
    Toshi Nishimura, pakar geofisika dan lektor kepala riset dari Fakultas Teknik di Universitas Boston, berkata, "Saat ini tidak ada teknologi untuk meluncurkan gelombang radio dari tanah dan ditujukan ke kota di benua lain dengan tepat."
    Verifikasi Foto 

    Foto ini pernah dimuat oleh situs berbahasa Turki, NTV.com pada 24 November 2022. Saat terjadi gempa di Düzce, terlihat berkas cahaya di langit. Wakil Direktur Observatorium Kandilli dan Lembaga Penelitian Gempa Prof. Dr. Ali P?nar mengatakan, bahwa cahaya yang terlihat pada saat gempa berhubungan dengan pergerakan patahan.
    "90 persen dari energi seismik yang terakumulasi pada patahan keluar sepenuhnya dengan panas. Dengan gerakan itu, panas yang hebat dihasilkan. Hanya 10 persen sisanya yang dilepaskan dengan energi seismik," kata P?nar.

    KESIMPULAN


    Dari pemeriksaan fakta di atas, video dengan klaim bahwa gempa bumi di Turki berasal dari langit adalah keliru. 
    Menurut analisis Survei Geologi Amerika Serikat, USGS, gempa di Turki disebabkan karena pergerakan relatif tiga lempeng tektonik utama yakni Lempeng Arab, Eurasia, dan Afrika serta satu blok tektonik yang lebih kecil yakni Lempeng Anatolia.

    Rujukan

    https://web.facebook.com/rice.cooker.5076/posts/723190952863364/?_rdc=1&_rdr

    https://earthquake.usgs.gov/storymap/index-turkey2023.html

    https://www.preventionweb.net/

    https://www.britannica.com/science/strike-slip-fault

    https://cekfakta.tempo.co/fakta/2176/keliru-haarp-picu-badai-tsunami-gempa-bumi-dan-kendalikan-pikiran-manusia

    https://periksafakta.afp.com/doc.afp.com.33AQ9FP?fbclid=IwAR0ktCDG4lyEjmJLrGnOJSMtQnnEggeOGYcNj44mOreA3rpArUcNsxYHRGA

    https://www.ntv.com.tr/turkiye/deprem-anindaki-isik-huzmesinin-sirri-cozuldu,UuLOnyrghkaYCi_f-540Ow

    https://wa.me/6281315777057 mailto:cekfakta@tempo.co.id

    Publish date : 2023-03-10

    Update Terbaru

    Sidebar Ad
    Update Terbaru
    About
    About

    CekFakta.com adalah sebuah sebuah proyek kolaboratif pengecekan fakta yang diinisiasi Mafindo (Masyarakat Antifitnah Indonesia), AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dan AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia).

    Kolaborasi ini diluncurkan di ‘Trusted Media Summit 2018’ pada Sabtu, 5 Mei 2018 di Jakarta dengan melibatkan puluhan media online di Indonesia serta jejaring ratusan pemeriksa fakta di seluruh Indonesia.

    Facebook Twitter Instagram YouTube
    Informasi
    • Cekfakta.com
    • info@cekfakta.com
    • Whatsapp di 082176503669
    Copyright © 2023. Designed by Cek Fakta.
    • About
    • LMS
    • Contact

    Type Pencarian Judul Enter to search. Press Esc to cancel.