Cek Fakta
    Facebook Twitter Instagram
    Cek Fakta
    • Playbook
    • Tentang Kami
    • Media
    • Kontak
    • Prebunking
    • LMS
    • FAQ
    Facebook Twitter Instagram Youtube
    Wednesday, November 8
    • Playbook
    • Tentang Kami
    • Media
    • Kontak
    • Prebunking
    • LMS
    • FAQ
    Facebook Twitter Instagram Youtube
    CekFakta
    Banner
    • Home
    • Terbaru
    • Kegiatan
    • Debat Pilpres 2024
    • Pilkada 2024
    • Hasil Riset
      • Penelitian
      • Buku
      • Modul Ajar
      • Policy Brief
    CekFakta
    You are at:Home»CekFakta»Cek Fakta: Tidak Benar Gempa Turki Hasil Rekayasa Lewat Fenomena Kilat Teknologi HAARP
    CekFakta

    Cek Fakta: Tidak Benar Gempa Turki Hasil Rekayasa Lewat Fenomena Kilat Teknologi HAARP

    Jane DoePublish date2023-02-20
    Liputan 6
    Share
    Facebook

    Berita


    Liputan6.com, Jakarta- Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim fenomena kilat rekayasa teknologi High-frequency Active Auroral Research Program atau HAARP sebabkan gempa Turki. Kabar tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 9 Februari 2023.
    Unggahan klaim fenomena kilat rekayasa teknologi HAARP sebabkan gempa Turki tersebut berupa tulisan sebagai berikut.
    "FENOMENA YANG SAMA .
    Tidak ada gempa yang disertai petir / kilat , kecuali ada campur tangan manusia .
    Slide 1 👉 Gempa di Meksiko dengan Magnitodo 8,1 SR ( september 2021 )
    Slide 2 👉 Gempa Turky
    Slide 3 👉 Gempa Maluku ( Tidak ada petir / kilatan cahaya )
    TURKY DISERANG !!( HAARP )
    Gempa Meksiko 👇
    https://youtube.com/watch?v=1UjQ9ddY7RY&feature=shares"
    Keterangan tersebut disertai dengan tiga video.
    Benarkah klaim fenomena kilat rekayasa teknologi HAARP sebabkan gempa Turki? Simak hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.
     

    HASIL CEK FAKTA


    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim fenomena kilat rekayasa teknologi HAARP sebabkan gempa Turki, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono, lewat akun Twitter-nya @DaryonoBMKG, menjelaskan terkait kemunculan kilat saat gempa.
    "Saat batuan kulit bumi mengalami/mendapat tekanan yang hebat dan sangat kuat, mendekati batas elastisitasnya, maka sebelum failure maka akan melepaskan gelombang elektromagnetik, dari sinilah awal cerita lightning during the earthquake, pencahayaan gempa. "seismoelectric effect""
    Daryono juga menyebut, fenomena earthquake lightning juga terjadi saat gempa Sumogawe di lereng utara Merbabu pada 16 Februari 2014 yang lalu.
    "Adalah angan angan kosong, mengkait-kaitkan gempa dengan HAARP," tulisnya.
    Mengutip dari Tekno Liputan6.com, artikel berjudul "Teori Konspirasi Klaim Teknologi AS HAARP Jadi Penyebab Gempa Turki, Ini Faktanya"  menyebutkan, HAARP memang sebenarnya ada. Meskipun begitu, sejauh ini tidak ada riset ilmiah yang membuktikan antara keterkaitan teknologi tersebut atau teknologi buatan manusia lainnya, dengan bencana alam di dunia.
    Mengutip situs resmi haarp.gi.alaska.edu, HAARP atau dalam bahasa Indonesia Program Penelitian Auroral Aktif Frekuensi Tinggi, adalah upaya ilmiah yang ditujukan untuk mempelajari sifat dan perilaku ionosfer.
    NASA mencatat, bersama dengan atmosfer atas yang netral, ionosfer membentuk batas antara atmosfer bawah Bumi--tempat kita hidup dan bernapas--dan ruang hampa udara.
    "HAARP adalah pemancar berfrekuensi tinggi berkekuatan tinggi yang paling mumpuni di dunia untuk mempelajari ionosfer," tulis laman University of Alaska Fairbanks, dikutip Jumat (10/2/2023).
    Pada 2015, pengoperasian fasilitas penelitian dipindahkan dari Angkatan Udara AS ke University of Alaska Fairbanks pada 11 Agustus 2015.
    Ini memungkinkan HAARP untuk melanjutkan eksplorasi fenomenologi ionosfer melalui perjanjian penelitian dan pengembangan kerjasama penggunaan lahan.
     

    KESIMPULAN


    Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim fenomena kilat rekayasa teknologi HAARP sebabkan gempa Turki tidak benar.
    Cahaya tersebut adalah lightning during the earthquake, pelepasan gelombang elektro magnetik saat batuan kulit bumi mengalami/mendapat tekanan yang hebat dan sangat kuat, mendekati batas elastisitasnya.
    Sejauh ini tidak ada riset ilmiah yang membuktikan antara keterkaitan teknologi tersebut atau teknologi buatan manusia lainnya, dengan bencana alam di dunia.

    Rujukan

    https://twitter.com/DaryonoBMKG/status/1623137877298405376  

    Publish date : 2023-02-20

    Update Terbaru

    Sidebar Ad
    Update Terbaru
    About
    About

    CekFakta.com adalah sebuah sebuah proyek kolaboratif pengecekan fakta yang diinisiasi Mafindo (Masyarakat Antifitnah Indonesia), AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dan AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia).

    Kolaborasi ini diluncurkan di ‘Trusted Media Summit 2018’ pada Sabtu, 5 Mei 2018 di Jakarta dengan melibatkan puluhan media online di Indonesia serta jejaring ratusan pemeriksa fakta di seluruh Indonesia.

    Facebook Twitter Instagram YouTube
    Informasi
    • Cekfakta.com
    • info@cekfakta.com
    • Whatsapp di 082176503669
    Copyright © 2023. Designed by Cek Fakta.
    • About
    • LMS
    • Contact

    Type Pencarian Judul Enter to search. Press Esc to cancel.