Berita
Liputan6.com, Jakarta - Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim link pendaftaran bantuan dana untuk non muslim dan gereja 2026 lewat WhatsApp, informasi tersebut diunggah salah satu akun Facebook, pada 22 Januari 2026.
Klaim link pendaftaran bantuan dana untuk non muslim dan gereja 2026 lewat WhatsApp berupa tulisan sebagai berikut.
"Salam Sejahtera Buat kita semua,Langsung Dari Gita Kammath SelakuWakil Duta Besar Australia.
Menyampaikan Bahwa Bantuan DanaD.A.P (Direct Aid Prorgam)Non Muslim & Gereja 2026,telah di salurkan menyebardiseluruh pelosok IndonesiaPerlu bpk/ibu KetahuiProgram Bantuan D.A.P
Tidak Ada Biaya Pendaftaran Admin/administrasi.
Terima Kasih Tuhan Yesus Memberkati Kita Semua🙏"
Unggahan tersebut menyertakan link sebagai pendaftaran bantuan.
Benarkah link pendaftaran bantuan dana untuk non muslim dan gereja 2026 lewat WhatsApp? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.
HASIL CEK FAKTA
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim link pendaftaran bantuan dana untuk non muslim dan gereja 2026 lewat WhatsApp, penelusuran mengarah pada bantahan dari Dirjen Bimas Kristen. Bantahan itu disampaikan dalam situs resminya Bimaskristen.kemenag.go.id.
Dalam keterangan resminya, Dirjen Bimas Kristen menegaskan bahwa belakangan ini banyak beredar pesan berantai maupun informasi menyesatkan yang menggunakan nama Ditjen Bimas Kristen dengan iming-iming tertentu. Hal ini dinilai berpotensi meresahkan masyarakat dan mencoreng nama baik lembaga.
"Seluruh informasi resmi Ditjen Bimas Kristen hanya disampaikan melalui kanal resmi, yakni website bimaskristen.kemenag.go.id dan media sosial resmi Ditjen Bimas Kristen Kemenag," Jeane menegaskan.
Melalui surat edaran tersebut, umat Kristen di seluruh Indonesia, pimpinan sinode, pengurus gereja, penyuluh agama, hingga lembaga keagamaan Kristen diimbau untuk:
1.Tidak mudah percaya terhadap berita atau pesan dari sumber yang tidak jelas.
2. Melakukan cek dan ricek sebelum menyebarkan informasi.
3. Segera melaporkan kepada aparat terkait atau Ditjen Bimas Kristen apabila menemukan penyalahgunaan nama lembaga.
Ditjen Bimas Kristen menegaskan bahwa segala kerugian akibat penipuan yang mengatasnamakan lembaga adalah tanggung jawab pihak pelaku, bukan Ditjen Bimas Kristen.
"Marilah kita jadikan ruang digital sebagai sarana berkat, bukan sumber keresahan. Bijaklah dalam bermedia sosial dan bersama-sama menjaga nama baik Gereja serta bangsa," tulis Jeane dalam edaran tersebut.
Selain itu dalam kolom komentar dalam postingan itu terdapat ajakan untuk menghubungi pesan pribadi yang terdapat pada akun tersebut. Ini merupakan modus agar masyarakat mengklik tautan menuju website yang bisa mencuri data ataupun terhubung dengan pinjaman online ilegal.
Penelusuran juga mengarah pada akun Instagram resmi Kedubes Australia @kedubesaustralia yang mengunggah peringatan penipuan pada 18 Juni 2025.
Berikut unggahan peringatan penipuan tersebut.
"PERINGATAN PENIPUAN
Kami menyadari adanya penipuan yang melibatkan video yang dimanipulasi dan diklaim berasal dari pejabat Kedutaan Besar Australia.
Harap berhati-hati dan jangan membagikan informasi pribadi atau berinteraksi dengan akun WhatsApp maupun media sosial yang tidak resmi dalam bentuk apa pun.
Situs web dan akun media sosial resmi Kedutaan Besar Australia adalah:
Situs web: https://indonesia.embassy.gov.au
Instagram: kedubesaustralia
X: @DubesAustralia
Facebook: Australian Embassy - Jakarta, Indonesia
LinkedIn: Australian Embassy, Indonesia
YouTube: @AustralianEmbassyJakarta
Jika Anda menemukan akun yang mencurigakan, harap laporkan dan beri tahu kami."
KESIMPULAN
Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim link pendaftaran bantuan dana untuk non muslim dan gereja 2026 lewat WhatsApp tidak benar.
Dirjen Bimas Kristen menegaskan bahwa belakangan ini banyak beredar pesan berantai maupun informasi menyesatkan yang menggunakan nama Ditjen Bimas Kristen dengan iming-iming tertentu.
Kedutaan Besar Australia menyebutkan adanya penipuan yang mengklaim berasal dari pejabat Kedutaan Besar Australia.
Rujukan
Publish date : 2026-01-26

