Berita
UNGGAHAN dengan klaim tentang bahaya air rebusan bekas mie instan, beredar di Instagram [arsip] dan Facebook pada 21 Desember 2025. Narasi dalam unggahan itu menyebut air rebusan mie instan mengandung sisa lilin dari lapisan mie kering yang bisa ikut larut saat direbus.
Selain itu, air rebusan mie instan disebut mengandung kadar natrium tinggi yang mengganggu tekanan darah apabila sering diminum. Bahan pengawet di dalam mie juga membebani kerja hati dan ginjal. “Kalau mau lebih aman, buang air rebusan pertama, lalu ganti dengan air baru sebelum ditambah bumbu,” tulis pengunggah konten.
Diunggah pada 21 Desember 2025, video tersebut sudah ditonton lebih dari 80.900 kali, disukai 5.600 pengguna, dan mendapat 229 komentar. Namun, benarkah air rebusan mie instan berbahaya seperti klaim dalam narasi?
Selain itu, air rebusan mie instan disebut mengandung kadar natrium tinggi yang mengganggu tekanan darah apabila sering diminum. Bahan pengawet di dalam mie juga membebani kerja hati dan ginjal. “Kalau mau lebih aman, buang air rebusan pertama, lalu ganti dengan air baru sebelum ditambah bumbu,” tulis pengunggah konten.
Diunggah pada 21 Desember 2025, video tersebut sudah ditonton lebih dari 80.900 kali, disukai 5.600 pengguna, dan mendapat 229 komentar. Namun, benarkah air rebusan mie instan berbahaya seperti klaim dalam narasi?
HASIL CEK FAKTA
Tim Cek Fakta Tempo memverifikasi deretan klaim tersebut dengan mewawancarai ahli gizi serta menelusuri situs web kesehatan dan media yang kredibel. Hasilnya, sebagian klaim mengenai bahaya mengkonsumsi air rebusan mie instan memang benar dan sebagian lagi tidak akurat.
Dosen Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Qonita Rachmah, S.Gz, M.Sc menegaskan air rebusan mie instan tidak mengandung sisa lilin yang terlarut. Menurutnya, penyebab keruhnya air bekas rebusan mie ialah minyak dari proses penggorengan sebelumnya.
“Sisa lilin dalam mie instan itu hoax, karena mie tidak mengandung lilin. Kalau minyak bisa jadi iya,” ujarnya kepada Tempo, Ahad, 28 Desember 2025.
Soal kadar natrium atau garam, Qonita menjelaskan, zat tersebut terkandung pada bumbu dan kecap. Namun tinggi dan rendahnya kadar garam, tergantung pada jumlah takaran bumbu yang digunakan oleh konsumen.
Mengkonsumsi natrium atau garam yang berlebihan, kata dia, memang meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Sebab natrium dapat membuat tubuh menahan kelebihan cairan. Untuk mengurangi garam, seseorang dapat mengimbanginya dengan mengkonsumsi air putih yang lebih banyak.
Selain itu, mengkonsumsi sodium yang tinggi memang dapat memperberat kerja ginjal. Sebab, ginjal bekerja lebih keras menyeimbangkan antara air dan sodium supaya tekanan darah tak meningkat.
Lulusan pascasarjana Universitas Mahidol itu menambahkan, mie instan memang mengandung zat tambahan (additives) seperti zat pengawet, pengenyal (stabilizer), penguat rasa (flavor enhancer), dan lain-lain.
Meski begitu, anjuran untuk membuang air rebusan pertama, lalu ganti dengan air baru adalah pilihan konsumen. Sebab air rebusan bekas mie juga mengandung vitamin larut air seperti vitamin B dan vitamin C.
Mie instan Aman Dikonsumsi
Pada situs web resminya, Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa produk mie instan di Indonesia aman dikonsumsi. Dalam menetapkan persyaratan dan keamanan mutu dan gizi produk pangan olahan, Indonesia mengacu pada persyaratan internasional yaitu Codex Alimentarius Commision (CAC) dan berdasarkan kajian risiko.
Penggunaan bahan tambahan pangan juga diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.722/Menkes/Per/IX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan. Salah satu bahan tambahan pangan yang diatur adalah nipagin (methyl p-hydroxybenzoate) yang berfungsi sebagai pengawet dalam batas maksimum penggunaan.
Dilansir Cek Fakta Tempo, hal paling penting saat mengkonsumsi mie instan adalah dengan menambahkan telur, sayur-sayuran dan mengkombinasikan bumbunya dengan rempah yang sehat seperti bawang merah, bawang putih, dan lainnya.
“Yang harus diperhatikan, jangan mengkonsumsi mie instan terlalu sering. Tetap kita utamakan makan makanan sehat, tradisional dari rumah sendiri, dan buatan sendiri,” kata dokter spesialis gizi klinik di Laboratorium Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) dr. Amelya Augusthina Ayusari M.Gizi, Sp.GK.
Dosen Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Qonita Rachmah, S.Gz, M.Sc menegaskan air rebusan mie instan tidak mengandung sisa lilin yang terlarut. Menurutnya, penyebab keruhnya air bekas rebusan mie ialah minyak dari proses penggorengan sebelumnya.
“Sisa lilin dalam mie instan itu hoax, karena mie tidak mengandung lilin. Kalau minyak bisa jadi iya,” ujarnya kepada Tempo, Ahad, 28 Desember 2025.
Soal kadar natrium atau garam, Qonita menjelaskan, zat tersebut terkandung pada bumbu dan kecap. Namun tinggi dan rendahnya kadar garam, tergantung pada jumlah takaran bumbu yang digunakan oleh konsumen.
Mengkonsumsi natrium atau garam yang berlebihan, kata dia, memang meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Sebab natrium dapat membuat tubuh menahan kelebihan cairan. Untuk mengurangi garam, seseorang dapat mengimbanginya dengan mengkonsumsi air putih yang lebih banyak.
Selain itu, mengkonsumsi sodium yang tinggi memang dapat memperberat kerja ginjal. Sebab, ginjal bekerja lebih keras menyeimbangkan antara air dan sodium supaya tekanan darah tak meningkat.
Lulusan pascasarjana Universitas Mahidol itu menambahkan, mie instan memang mengandung zat tambahan (additives) seperti zat pengawet, pengenyal (stabilizer), penguat rasa (flavor enhancer), dan lain-lain.
Meski begitu, anjuran untuk membuang air rebusan pertama, lalu ganti dengan air baru adalah pilihan konsumen. Sebab air rebusan bekas mie juga mengandung vitamin larut air seperti vitamin B dan vitamin C.
Mie instan Aman Dikonsumsi
Pada situs web resminya, Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa produk mie instan di Indonesia aman dikonsumsi. Dalam menetapkan persyaratan dan keamanan mutu dan gizi produk pangan olahan, Indonesia mengacu pada persyaratan internasional yaitu Codex Alimentarius Commision (CAC) dan berdasarkan kajian risiko.
Penggunaan bahan tambahan pangan juga diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.722/Menkes/Per/IX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan. Salah satu bahan tambahan pangan yang diatur adalah nipagin (methyl p-hydroxybenzoate) yang berfungsi sebagai pengawet dalam batas maksimum penggunaan.
Dilansir Cek Fakta Tempo, hal paling penting saat mengkonsumsi mie instan adalah dengan menambahkan telur, sayur-sayuran dan mengkombinasikan bumbunya dengan rempah yang sehat seperti bawang merah, bawang putih, dan lainnya.
“Yang harus diperhatikan, jangan mengkonsumsi mie instan terlalu sering. Tetap kita utamakan makan makanan sehat, tradisional dari rumah sendiri, dan buatan sendiri,” kata dokter spesialis gizi klinik di Laboratorium Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) dr. Amelya Augusthina Ayusari M.Gizi, Sp.GK.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelusuran Tempo, klaim dan tips seputar air bekas rebusan mie instan adalah sebagian benar.
Air rebusan mie instan tidak mengandung sisa lilin yang terlarut, karena penyebab keruhnya air bekas rebusan mie ialah minyak dari proses penggorengan sebelumnya.
Selain itu, konsumsi natrium atau garam yang berlebih memang meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan memperberat kerja ginjal. Namun kadar natrium atau garam dalam mie instan paling banyak disebabkan pemberian bumbu bubuk dan kecap, bukan air bekas rebusan.
Air rebusan mie instan tidak mengandung sisa lilin yang terlarut, karena penyebab keruhnya air bekas rebusan mie ialah minyak dari proses penggorengan sebelumnya.
Selain itu, konsumsi natrium atau garam yang berlebih memang meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan memperberat kerja ginjal. Namun kadar natrium atau garam dalam mie instan paling banyak disebabkan pemberian bumbu bubuk dan kecap, bukan air bekas rebusan.
Rujukan
https://www.instagram.com/reels/DSgJV37E4_g/
https://kemkes.go.id/id/produk-mie-instant-di-indonesia-aman-dikonsumsi
Publish date : 2025-12-31

