Kumpulan informasi salah yang sudah diverifikasi.

  • [SALAH] Positif Covid Disebabkan oleh Kekurangan Vitamin, Bukan oleh Virus

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 16/04/2021

    Berita

    Telah beredar sebuah unggahan dalam Twitter oleh akun @LsOwien yang mengatakan bahwa Covid-19 bukan disebabkan oleh virus, melainkan karena kekurangan vitamin C, vitamin B serta zinc. Narasi tersebut dicantumkan dalam bentuk tangkapan layar, yang juga mengatakan bahwa orang dengan positif Covid hendaknya meminum air kelapa muda yang berdaging buah tebal, meminum campuran teh lemon, jahe dan madu, serta perbanyak makan makanan laut. Narasi tersebut juga memuat larangan untuk mengonsumsi susu dan keju secara berlebih, larangan untuk meminum gula putih dan gluten, serta larangan untuk melakukan uji swab PCR dan Genose karena alat uji coba tersebut merupakan alat deteksi virus yang menipu dan tidak bisa memberikan hasil yang akurat.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah melakukan penelusuran, hal tersebut tidak benar. Melansir dari situs resmi WHO, Covid-19 disebabkan oleh virus corona varian baru bernama SARS-Cov-2. Kekurangan vitamin C, B dan zinc berpengaruh pada tingkat kekebalan serta sistem metabolisme tubuh, namun tidak menjadikannya sebagai penyebab seseorang terpapar Covid-19. Mengonsumsi vitamin dan suplemen dalam takaran tertentu juga belum dapat dibuktikan dapat menyembuhkan Covid-19. WHO mengatakan bahwa segala bentuk vitamin dan suplemen tidak dapat mencegah Covid-19 dan tidak dapat dijadikan acuan perawatan dalam menangani Covid-19.

    Meminum air kelapa muda yang memiliki daging buah tebal juga tidak membuat seseorang sembuh dari Covid-19. Hal ini sudah diunggah dalam situs turnbackhoax.id. Meminum air kelapa muda memang baik untuk kesehatan, namun hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang dapat membuktikan bahwa meminum air kelapa muda dapat menyembuhkan Covid-19.
    Meminum campuran teh lemon, jahe dan madu juga tidak membuktikan dapat menyembuhkan dari Covid-19. Melansir dari laman WHO, hingga saat ini tidak ada teh herbal atau suplemen herbal yang dapat menyembuhkan dari Covid-19.

    Begitupun dengan banyak mengonsumsi makanan laut. WHO merekomendasikan beberapa sumber makanan yang sehat untuk tubuh, yang di antaranya adalah buah, sayur, kacang-kacangan, serta makanan yang bersumber dari hewan. Namun demikian, WHO tidak menyebutkan secara spesifik bahwa makanan-makanan tersebut dapat menyembuhkan dari Covid-19.

    Larangan dalam narasi yang mengatakan untuk tidak mengonsumsi susu, keju, gula putih dan gluten, tidak berpengaruh terhadap Covid-19. Larangan untuk mengonsumsi susu, keju, gula dan gluten ditujukan untuk menghindari penyakit lainnya. Melansir dari laman Kompas, makanan-makanan tersebut sebaiknya dikurangi atau dihindari untuk menghindari diabetes, penyakit jantung, obesitas serta jenis kanker tertentu.

    Untuk memastikan apakah seseorang terpapar Covid-19 perlu dilakukan uji acak swab antigen atau PCR atau mendatangi pusat pelayanan kesehatan terdekat. Melansir dari WHO, hal ini perlu dilakukan untuk melacak apakah terdapat virus dalam tubuh seseorang, yang berpotensi untuk menular kepada orang-orang yang berada di sekitarnya. Sehingga, narasi yang menyebutkan bahwa uji PCR atau antigen harus dihindari tidak benar.

    Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa unggahan Twitter oleh akun @LsOwien tidak sesuai fakta dan masuk ke dalam kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Nadine Salsabila Naura Marhaeni (Universitas Diponegoro)
    Hal tersebut tidak benar. Kekurangan vitamin memengaruhi tingkat imunitas serta sistem metabolisme tubuh, namun TIDAK menyebabkan Covid-19. Melansir dari World Health Organization (WHO), Covid-19 disebabkan oleh varian virus corona baru bernama SARS-Cov-2.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “vaksin korongna itu mRNA, ini bukan vaksin tapi terapi gen, mRNA ini jadi instruksi untuk menyebabkan mutasi”

    Sumber: Instagram.com
    Tanggal publish: 16/04/2021

    Berita

    Akun Instagram teluuurrr (instagram.com/teluuurrr) pada 10 April 2021 mengunggah sebuah gambar tangkapan layar komentar dari sebuah akun yang ditutupi namanya. Di gambar tersebut terdapat narasi sebagai berikut:

    “Saya kasih tahu ini vaksin korongna itu mRNA… RNA messenger. Dia adalah kode gen yg merupakan instruksi untuk sintesis DNA dan protein2 dalam tubuh kita makanya banyak dokter bule bilang ini bukan vaksin tapi terapi gen. Jadi begitu disuntik dia langsung memodulasi gen kita, injeksi itu kan langsung ke aliran darah, langsung masuk ke cairan interstitial/antar sel, langsunh mRNA ini jadi instruksi untuk menyebabkan mutasi. Makanya, Prof. Dolores Chahill memprediksi kematian pasca injeksi adalah 5-10 tahun dan untuk lansia adalah 2-3 tahun… Lah kok ada yg baik2 saja setelah disuntik, termasuk ALUSI… Apa gunanya BARCODE????? Ini percobaan besar2 gak semuanya berisi vaksin, sisanya placebo/sediaan kosong… Pake barcode supaya bisa dentry datanya dan dievaluasi berdasarkan data pasien… Makanya vaksin covid ini pendataannya cakep kan… Begitulah, jadi tolaklah sekuat tenaga, uang bisa dicari, tubuh udh rusah gabisa diganti.”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa bahwa mRNA bukan vaksin melainkan terapi gen yang memberikan instruksi untuk mutasi virus adalah klaim yang menyesatkan.

    Faktanya, bukan intruksi untuk mutasi virus. Instruksi yang dilakukan oleh mRNA adalah memicu respons imun. Vaksin yang berbasis mRNA menginstruksikan sel-sel dalam tubuh untuk membuat protein, sehingga membentuk antibodi yang dapat mencegah infeksi virus.

    Dilansir dari artikel berjudul “[SALAH] Vaksin Moderna Dirancang untuk Mengubah DNA Manusia” yang terbit di situs turnbackhoax.id pada 7 Maret 2021, pernyataan tersebut menyesatkan. Tidak benar bahwa vaksin yang berbasis mRNA seperti Moderna, Pfizer, BioNTech, dapat mengubah DNA manusia.

    Dilansir dari liputan6.com, salah satu relawan dokter Covid-19 di Indonesia, dr. Muhamad Fajri Adda’i, menyatakan bahwa vaksin yang berbasis mRNA menggunakan protein dari virus yang tidak aktif. Vaksin yang mengandung protein tersebut disuntikkan ke dalam tubuh manusia, yang kemudian membentuk antibodi dan sel-sel imun lain agar dapat melawan virus yang masuk dalam tubuh.

    Lebih lanjut, melansir dari artikel dw.com berjudul “Coronavirus vaccines: Fake news and myths go viral”, Institut Paul-Ehrlich, Institut Federal untuk Vaksin dan Biomedis, memberi penjelasan bahwa integrasi RNA ke dalam DNA tidak dimungkinkan karena perbedaan struktur kimianya. Selain itu, belum ada penelitian yang membuktikan mRNA yang bereaksi dalam tubuh setelah divaksinasi, mengubah DNA manusia.

    Selain itu, dikutip dari situs resmi Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), vaksin mRNA adalah jenis vaksin baru untuk melindungi seseorang dari penyakit menular. Vaksin mRNA mengajarkan sel tubuh manusia cara untuk membuat protein yang memicu respons imun di dalam tubuh. Vaksin mRNA tidak menggunakan virus hidup yang menyebabkan Covid-19. Mereka pun tidak mempengaruhi atau berinteraksi dengan DNA manusia dengan cara apa pun, karena mRNA tidak pernah memasuki inti sel, yang merupakan tempat penyimpanan DNA (materi genetik).

    Dilansir dari Tempo, berikut cara kerja vaksin mRNA:

    Vaksin Covid-19 mRNA memberikan instruksi kepada sel-sel di dalam tubuh untuk membuat bagian yang tidak berbahaya dari apa yang disebut “protein spike”, yang ditemukan di permukaan virus yang menyebabkan Covid-19. Pertama, vaksin disuntikkan ke otot lengan atas. Setelah instruksi (mRNA) berada di dalam sel kekebalan, sel tersebut menggunakannya untuk membuat potongan protein. Setelah potongan protein dibuat, sel itu memecah instruksi dan membuangnya.

    Selanjutnya, sel tersebut menampilkan potongan protein di permukaannya. Sistem kekebalan pun mengenali bahwa protein tersebut tidak seharusnya berada di situ. Sistem kekebalan kemudian mulai membangun respons kekebalan dan membuat antibodi, seperti yang terjadi pada infeksi Covid-19 alami. Di akhir proses, tubuh telah belajar bagaimana melindungi dirinya dari infeksi di masa depan. Manfaat vaksin mRNA, seperti semua vaksin lainnya, adalah mereka yang divaksinasi mendapatkan perlindungan ini tanpa harus mengambil risiko konsekuensi serius dari penyakit Covid-19.

    Vaksin Covid-19 yang berbasis mRNA adalah Pfizer dan Moderna. Dikutip dari VoA Indonesia, studi yang dirilis pada 29 Maret 2021 oleh CDC menunjukkan bahwa vaksin mRNA yang diproduksi oleh Pfizer dan Moderna sangat efektif dalam mencegah Covid-19 dalam kondisi-kondisi nyata.

    Studi itu dilakukan terhadap hampir 4 ribu petugas kesehatan, petugas pertolongan pertama, dan pekerja penting lainnya di enam negara bagian pada 14 Desember 2020-13 Maret 2021. Hasilnya menunjukkan bahwa risiko infeksi berkurang 80 persen setelah suntikan dosis pertama dan 90 persen setelah suntikan dosis kedua.

    Dalam pengarahan tim respons Covid-19 Gedung Putih, Direktur CDC Rochelle Walensky mengatakan penelitian tersebut menunjukkan kedua vaksin itu bisa efektif tidak hanya pada infeksi simtomatik, tapi juga infeksi tanpa gejala. Ia menyebutnya “sangat menggembirakan”, dan mengatakan bahwa studi itu melengkapi studi terbaru lainnya di New England Journal of Medicine dan jurnal lainnya.

    Dikutip dari Liputan6.com, menurut analisis Public Health England (PHE), percepatan vaksinasi Covid-19 di Inggris menggunakan vaksin Covid-19 Pfizer dapat mencegah 10 ribu lebih kematian orang-orang yang berusia di atas 60 tahun hingga akhir Maret 2021. Lebih dari 15 juta dosis vaksin telah disuntikkan pada orang dewasa berusia 60 tahun ke atas sampai akhir Maret 2021, mencegah sekitar 10.400 kematian, yang sebagian besar berusia 80 tahun ke atas. Analisis itu membandingkan jumlah kematian yang dilaporkan hingga periode Maret dengan jumlah yang diperkirakan jika vaksin tidak diberikan pada saat itu.

    Kesimpulan

    Bukan intruksi untuk mutasi virus. Instruksi yang dilakukan oleh mRNA adalah memicu respons imun. Vaksin yang berbasis mRNA menginstruksikan sel-sel dalam tubuh untuk membuat protein, sehingga membentuk antibodi yang dapat mencegah infeksi virus.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Surat Panggilan Wawancara Seleksi Karyawan PT Angkasa Pura II April 2021

    Sumber: Pesan Berantai
    Tanggal publish: 16/04/2021

    Berita

    Telah beredar surat panggilan wawancara seleksi karyawan yang mengatasnamakan PT Angkasa Pura II. Dalam surat tersebut, disebutkan bahwa penerima surat dapat mengikuti tes seleksi calon karyawan dengan memenuhi berbagai syarat dan ketentuan. Calon karyawan yang mengikuti seleksi tersebut juga akan mendapat fasilitas dari PT Angkasa Pura II (Persero) berupa biaya transportasi dan akomodasi dengan sistem reimburse.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, PT Angkasa Pura II melalui akun Twitter resmi Contact Center AP II (@contactap2) memastikan bahwa saat ini pihaknya belum membuka kembali lowongan pekerjaan. Informasi lowongan pekerjaan dapat diakses melalui situs resmi http://angkasapura2.co.id pada konten informasi karir. Selain itu, PT Angkasa Pura II juga tidak pernah memungut biaya kepada calon peserta dalam proses perekrutan dan meminta masyarakat untuk tetap berhati-hati terhadap lowongan pekerjaan yang mengatasnamakan PT Angkasa Pura II.

    Informasi palsu seputar lowongan pekerjaan PT Angkasa Pura II sebelumnya pernah dibahas dalam beberapa artikel Turn Back Hoax berjudul [SALAH] Lowongan Kerja PT Angkasa Pura II (Persero) untuk 19 Posisi dan [SALAH] Surat Panggilan Wawancara Kerja Oleh PT Angkasa Pura II Juni 2020.

    Dari berbagai fakta yang telah dijabarkan, surat yang mengatasnamakan PT Angkasa Pura II itu dapat dikategorikan sebagai Konten Palsu.

    Kesimpulan

    Surat palsu. Faktanya, pihak PT Angkasa Pura II mengonfirmasi bahwa saat ini belum dibuka kembali lowongan pekerjaan. Informasi lowongan pekerjaan dapat diakses melalui situs resmi PT Angkasa Pura II di http://angkasapura2.co.id pada konten informasi karir.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] WHO Ungkapkan Bahwa Hasil Tes PCR adalah Cacat

    Sumber: Instagram.com
    Tanggal publish: 16/04/2021

    Berita

    Beredar sebuah unggahan di media sosial Instagram yang menyatakan, WHO telah menegaskan bahwa test PCR Covid-19 berbasis jumlah ambang batas Ct yang selama ini telah dilakukan ternyata memiliki hasil yang cacat. Akun bernama Rippedgymarchive yang membagikan unggahan ini pun menambahkan bahwa estimasi pasien yang terdeteksi positif melalui tes ini, dan lockdown yang telah dilaksanakan, adalah sebuah kekeliruan yang tidak berdasar.

    Hasil Cek Fakta

    Namun setelah dilakukan penelusuran, klaim ini ternyata hoaks. WHO sampai hari ini tidak pernah menyatakan bahwa tes PCR merupakan tes yang cacat dan sama sekali tidak menjadi penentu seseorang dinyatakan positif Covid-19 atau tidak.

    Melansir dari media FullFact, tes positif dengan nilai Ct tinggi mungkin menunjukkan jumlah RNA virus terdeteksi yang sangat kecil pada pemeriksaan awal mereka, dan mungkin tidak menular atau sedang mengalami infeksi aktif. Namun, ada skenario klinis lain yang menunjukkan bahwa nilai Ct tinggi pada seseorang, masih memungkinkan untuk dapat menularkan atau yang mungkin segera menjadi menular.

    Tes PCR terkadang dapat menunjukkan bahwa seseorang tidak tertular virus ketika mereka terinfeksi (negatif palsu). Mereka juga dapat menunjukkan bahwa seseorang terkena virus padahal tidak (positif palsu). Sulit untuk mengatakan berapa banyak negatif palsu dan positif yang dihasilkan oleh tes PCR. Maka dari itu, tetap diperlukan pemeriksaan lanjutan terkait hasil tes ini.

    WHO dalam rilis informasi terbarunya pada Januari 2021 pun menyatakan hal yang sama.

    “…Diperlukan interpretasi yang cermat terhadap hasil positif yang lemah. Jika hasil tes tidak sesuai dengan presentasi klinis, spesimen baru harus diambil dan diuji ulang menggunakan teknologi NAT yang sama atau berbeda.”

    Pernyataan yang terbaru itu pun tidak menarik imbauan terkait penggunaan tes PCR, atau menyatakan bahwa tes PCR benar-benar valid. Dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa WHO menekankan untuk tetap melihat keselarasan antara hasil tes dengan kondisi pasien positif secara nyata.

    Jadi dapat disimpulkan bahwa klaim yang menyebut bahwa WHO memberi pernyataan terkait hasil tes PCR memiliki hasil yang cacat adalah hoaks kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara)
    Klaim tersebut salah. WHO dalam rilis terbarunya terkait tes PCR hanya menekankan bahwa jika terdapat perbedaan antara hasil tes dengan presentasi klinis pasien, bukan terkait hasil tes PCR yang cacat.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini