• [SALAH] “Thailand Berhasil Sembuhkan Pasien Virus Corona dengan Ganja”

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 12/02/2020

    Berita

    Bukan ganja. Dokter di Thailand berupaya mengobati salah satu pasien yang positif terinfeksi virus Corona Wuhan dengan kombinasi obat antiflu, oseltamivir, serta obat anti-HIV, lopinavir dan ritonavir yang tidak mengandung ganja. Situs jurnas[dot]com sendiri sudah mengubah judul artikelnya dan meminta maaf.

    Beredar artikel dengan judul : “Thailand Berhasil Sembuhkan Pasien Virus Corona dengan Ganja”. Artikel ini dimuat di situs jurnas[dot]com pada Senin, 03 Februari 2020.

    Hasil Cek Fakta

    PENJELASAN

    Berdasarkan penelusuran tim Cek Fakta Tempo, artikel yang diunggah akun Nayla Putri Pertama memang pernah dimuat oleh situs Jurnas[dot]com, yakni pada 3 Februari 2020, dengan judul yang sama. Namun, saat ini, judul artikel tersebut telah diubah.

    Di bawah artikel tersebut, Jurnas[dot]com menulis: “Catatan Redaksi, sebelumnya judul berita ini ‘Thailand Berhasil Sembuhkan Pasien Virus Corona dengan Ganja’, diubah menjadi ‘Thailand Berhasil Sembuhkan Pasien Corona dengan Anti Virus’ karena tindakan human error salah satu wartawan kami. Kami sampaikan mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

    Dalam artikel itu, memang tidak disebutkan perihal penggunaan ganja dalam pengobatan pasien virus Corona Wuhan. Obat yang digunakan para dokter di Thailand, menurut berita di Jurnas.com, adalah obat antiflu dan obat anti-HIV.

    Berita mengenai penggunaan obat antiflu dan obat anti-HIV oleh para dokter di Thailand juga dimuat oleh beberapa situs media asing. Situs South China Morning Post memuat berita itu dengan judul “Coronavirus: Thailand has apparent treatment success with antiviral drug cocktail”.

    Situs Telegraph.co.uk memuat berita itu dengan judul “Coronavirus: Thai doctors ‘successfully treat’ virus but stocks plunge in China”. Adapun situs media Indonesia, Merdeka.com, memuat berita tersebut dengan judul “Dokter Thailand: Pasien Corona Sembuh dengan Kombinasi Obat Flu dan HIV”.

    Berdasarkan berita-berita tersebut, para dokter di Thailand berupaya mengobati salah satu pasien yang positif terinfeksi virus Corona Wuhan dengan kombinasi obat antiflu, oseltamivir, serta obat anti-HIV, lopinavir dan ritonavir. Menurut dokter, 48 jam setelah diberi obat-obat itu, pasien tersebut dinyatakan negatif dari virus Corona.

    Untuk mengetahui apakah obat antiflu dan obat anti-HIV yang digunakan untuk mengobati pasien virus Corona Wuhan itu mengandung ganja, Tim CekFakta Tempo mewawancarai Guru Besar Universitas Airlangga, Chairul Anwar Nidom. Menurut dia, tidak ada kandungan ganja pada obat antiflu dan obat anti-HIV yang digunakan pada pasien virus Corona Wuhan di Thailand itu.

    Ketua Tim Riset CoV-Formulasi Vaksin Professor Nidom Foundation ini mengatakan obat tersebut merupakan obat antiflu yang umum digunakan. “Sifatnya coba-coba, siapa tahu bisa, bukan drug of choice untuk nCoV (Corona Wuhan). Sama saja dengan saya menawarkan empon-empon (curcumin) untuk melindungi paru-paru menghadapi banjir sitokin,” ujarnya.

    Ganja belum terbukti bisa membunuh virus Corona Wuhan
    Klaim bahwa ganja (mariyuana atau kanabis) bisa membunuh virus Corona Wuhan memang beredar dalam beberapa hari terakhir, terutama di India. Sejumlah organisasi cek fakta India pun memverifikasi klaim tersebut. Menurut Alt News, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa ganja bisa mematikan virus Corona Wuhan.

    Suranjit Chatterjee, Konsultan Senior Obat Penyakit Dalam di Indraprastha Apollo Hospitals India, juga menyatakan hal serupa. “Sama sekali tidak ada bukti ilmiah untuk mempercayai klaim semacam itu. Kami masih mencari tahu virusnya. Sampai penelitian yang solid dilakukan, tidak alasan untuk mengikuti klaim tersebut,” ujarnya kepada situs The Quint.

    Boom Live, yang mengutip penjelasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menyatakan bahwa hingga kini belum ada obat khusus yang direkomendasikan untuk mencegah atau mengobati pasien virus Corona Wuhan. Namun, “Mereka yang terinfeksi virus Corona Wuhan harus menerima perawatan yang tepat untuk meredakan gejala, dan mereka yang sakit parah harus menerima perawatan suportif yang optimal.”

    WHO juga mengatakan, “Beberapa pengobatan yang spesifik sedang diselidiki dan akan diuji klinis. WHO membantu mengkoordinasikan upaya untuk mengembangkan obat-obatan untuk infeksi virus Corona Wuhan dengan berbagai mitra.”

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] “Pengemudi ini mencoba ‘kabur’ dari pemeriksaan #CoronaVirusCamp”

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 12/02/2020

    Berita

    Video sebelumnya sudah dipublikasikan pada tahun 2018. Dicurigai pengguna pelat nomor palsu, TIDAK TERKAIT dengan Virus Corona 2019.

    NARASI

    “Pengemudi ini mencoba ‘kabur’ dari pemeriksaan #CoronaVirusCamp.

    Demikianlah, setiap manusia sejatinya tidak nyaman selalu diperiksa. Apalagi kemudian diisolasi dalam kamp, apapun istilahnya.

    Bayangkan saudara Muslim #Uyghur, yg sejak 2016 diperlakukan hal yg sama.”

    Hasil Cek Fakta

    PENJELASAN


    (1) http://bit.ly/2rhTadC / http://bit.ly/2MxVN7S, First Draft News: “Konten yang Salah

    Ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah”.

    * SUMBER membagikan video insiden berusaha kaburnya pelaku yang dicurigai pengguna pelat nomor palsu dari kejaran polisi.

    * Narasi SUMBER menimbulkan kesimpulan yang salah dari fakta insiden yang direkam di video.



    (2) Salah satu artikel yang berkaitan, Yahoo! News Singapore: “Mobil yang melarikan diri menghancurkan gerbang selama pengejaran polisi

    Newsflare 10 April 2018

    Ini adalah momen dramatis sebuah mobil mendobrak gerbang saat pengejaran polisi di Tiongkok.

    Dalam video tersebut, difilmkan di Nanning City di Wilayah Otonomi Guangxi Zhuang selatan pada 10 April, sebuah BMW menabrak gerbang dan menyeretnya di sepanjang jalan.

    Menurut laporan setempat, polisi berusaha menghentikan mobil karena diduga menggunakan plat palsu.

    Untungnya, tidak ada yang terluka dalam insiden itu.”

    Google Translate http://bit.ly/2OKXw8Z / http://archive.md/sKkyG (arsip cadangan), video di http://bit.ly/2SNuWFl / http://archive.md/PwBNo (arsip cadangan).

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Video “puluhan pasien virus corona kejang-kejang”

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 11/02/2020

    Berita

    Bukan pasien 2019-nCoV atau virus Corona. Video itu adalah video kegiatan inisiasi di sebuah sekolah menengah yang direkam sekitar 28 Januari 2020 di sebuah sekolah menengah di Gauteng, Afrika Selatan.
    Akun Aneuk Ranto (fb.com/Aneuk-Ranto-225382958005784) mengunggah sebuah video berjudul “Kematian di cina semakin meningkat akibat virus Corona.” dan diberi narasi “Mudah mudahan kita dijauhi oleh ALLAH SWT dari virus Corona yang berbahaya ini,amin”.

    Dalam video yang berdurasi 9 detik itu, terlihat sejumlah orang di halaman sebuah gedung yang tubuhnya tampak seolah kejang-kejang.

    Hasil Cek Fakta

    PENJELASAN

    Berdasarkan hasil penelusuran Tim CekFakta Tempo, tertera akun yang mengunggah video itu di TikTok, yakni damiangelsenhuys. Berbekal petunjuk ini, Tim CekFakta Tempo membuka akun tersebut di TikTok. Setelah ditelusuri, akun damiangelsenhuys memang pernah mengunggah video itu, yakni sebanyak tiga kali. Dua di antaranya diunggah pada 28 Januari 2020, sementara yang satu lagi diunggah pada 29 Januari 2020.

    Ketiga unggahan ini pun viral di tengah mewabahnya virus Corona baru, 2019-nCoV, yang pertama kali dilaporkan di Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019 lalu. Banyak akun yang menuliskan komentar bahwa orang-orang yang terekam dalam video itu terinfeksi virus Corona.

    Padahal, dalam unggahan pertamanya, akun damiangelsenhuys (Gaming Snek) menuliskan judul “Bomskok”, istilah dalam bahasa Afrika yang berarti “kaget”. Di kolom komentar, akun ini juga menulis: “Guys it was anisiation (initiation) we had no bad things happening” atau “Teman-teman ini adalah inisiasi tidak ada hal-hal buruk yang terjadi”.

    Tempo pun mencoba mengkonfirmasi akun damiangelsenhuys mengenai video unggahannya itu pada 31 Januari 2020. Namun, Tempo tidak mendapatkan jawaban dari pemilik akun.

    AFP, yang menelusuri logo kepala ular dari kaos hitam yang dipamerkan dalam foto profil akun damiangelsenhuys, mendapatkan petunjuk bahwa logo tersebut adalah logo Lowveld Venom Suppliers, sebuah perusahaan yang fokus dalam penanganan dan pendidikan ular di Mpumalanga, Afrika Selatan.

    Lewat pelacakan di situs resmi Lowveld Venom Suppliers, AFP mendapatkan nama manajer sukarelawan perusahaan tersebut, Andrew Geldenhuys. AFP pun mendapatkan nomor ponsel Andrew dalam sebuah pos di akun Facebook miliknya pada Desember 2019.

    Dihubungi oleh AFP, Andrew mengkonfirmasi bahwa ia adalah ayah Damian, pemilik akun TikTok yang mengunggah video di atas. Andrew pun mengatakan bahwa rekaman itu menunjukkan kegiatan inisiasi di sebuah sekolah menengah dan tidak ada hubungannya dengan virus Corona.

    “Kegiatan itu disebut bomskok. Mereka diminta untuk berpura-pura sedang berada di tengah-tengah bom yang meledak atau gempa bumi. Mereka pun harus mengguncangkan tubuh mereka,” kata Andrew kepada AFP.

    Menurut Andrew, video itu direkam sekitar 28 Januari 2020 di sekolah putranya di Gauteng, Afrika Selatan. Dia meminta AFP untuk tidak mempublikasikan nama sekolah tersebut untuk melindungi privasi anaknya. AFP pun melacak sekolah itu dan menemukan bahwa seragamnya memang sama dengan yang dikenakan oleh para siswa dalam video yang viral di atas.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • [SALAH] Foto “tim medis Jepang berjumlah 1.000 tiba di Wuhan”

    Sumber: Sosial Media
    Tanggal publish: 11/02/2020

    Berita

    Foto tahun 2008. Bukan ke Wuhan, tapi ke kota Chengdu di Cina setelah terjadinya gempa di tahun 2008, jadi tidak terkait dengan kejadian virus corona atau 2019-nCoV pada awal tahun 2020.

    Akun Lyana Lukito (fb.com/LYANALUKITO) mengunggah sebuah foto dengan narasi :

    “第一个援助中国的医疗队来了,日本1000人医疗队抵达武汉
    Tim medis pertama yang membantu Tiongkok datang, dan tim medis Jepang berjumlah 1.000 tiba di Wuhan”

    Hasil Cek Fakta

    PENJELASAN

    Berdasarkan hasil penelusuran, bahwa foto dalam unggahan tersebut tidak ada kaitannya dengan wabah Virus Corona 2019-nCoV yang bermula di Wuhan, China. Foto yang diunggah oleh sumber klaim adalah anggota tim medis Jepang yang berangkat ke kota Chengdu di Cina setelah terjadinya gempa di tahun 2008.

    Pencarian gambar menemukan laporanterkait foto ini dimuat oleh Pusat Informasi Internet Cina milik pemerintah negara tersebut. Kredit laporan berita itu diberikan pada Kantor Berita Xinhua dengan tanggal 21 Mei 2008. Foto yang sama pernah dimuat dalam galeri foto di situs Beijing Review.

    Foto tersebut menggambarkan tim medis Jepang yang diberangkatkan dari Bandara Narita pada 20 Mei 2008. Tim yang terdiri atas 22 orang tersebut menuju Kota Chengdu di Provinsi Sichuan yang baru dilanda gempa.

    Pencarian dengan kata kunci ‘Japan, medical team, Wuhan’ tak menemukan bukti pendukung.

    Yang ada justru artikel berjudul, “This photo has circulated in reports about a Japanese medical team travelling to China in 2008”, yang dipublikasikan tim pencari fakta AFP Philippines yang membantah klaim tersebut.

    Seperti dikutip dari AFP, Kedutaan Besar Jepang di Manila membantah klaim soal pengiriman 1.000 tenaga medis Jepang ke Wuhan.

    “Berdasarkan pemeriksaan, harap diperhatikan bahwa laporan tersebut tidak benar,” demikian kata pihak kedutaan pada AFP lewat email pada 3 Februari 2020.

    Hal itu membuktikan, klaim yang tak benar itu juga beredar di negara lain, setidaknya Filipina.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini