Kumpulan informasi benar yang sudah diverifikasi.

  • Pernyataan Sikap Jaringan CekFakta: "Mengecam penggunaan disinformasi untuk merusak kredibilitas pembela kebebasan pers"

    Sumber:
    Tanggal publish: 25/02/2022

    Hasil Cek Fakta

    Jaringan CekFakta mengecam rentetan serangan digital terhadap Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Sasmito, pada 23-24 Februari 2022. Serangan digital itu mulai dari peretasan Whatsapp, akun Instagram, Facebook, hingga penggunaan informasi palsu atau disinformasi.

    Jaringan CekFakta menemukan serangan digital itu dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Sebelum melancarkan serangan, pelaku mengumpulkan akun media sosial, email, dan nomor ponsel yang digunakan oleh jurnalis aktif tersebut.

    Secara khusus, Jaringan CekFakta menyoroti penggunaan disinformasi berisi pernyataan palsu Sasmito yang disebarkan di Twitter dan Whatsapp. Disinformasi itu berupa sejumlah poster digital yang memuat foto Sasmito dengan teks: 1) Sasmito mendukung pembubaran Front Pembela Islam; 2) Mendukung Pembangunan Bener Purworejo; 3) Tangkap dan Adili Haris Azhar-Fatia dan 4) Sasmito pro terhadap kepentingan asing.

    Narasi palsu tersebut telah digunakan untuk merusak kredibilitas Sasmito sebagai Ketua Umum AJI Indonesia dan dapat membahayakan keselamatan jiwa. Tidak hanya merusak kredibilitas pribadi, disinformasi tersebut bertujuan merusak kepercayaan publik terhadap organisasi AJI. Ada upaya serius untuk membenturkan AJI dengan organisasi sipil lainnya.

    AJI yang berdiri tahun 1994, telah menjadi organisasi terdepan untuk membela kebebasan pers, kebebasan berekspresi, dan hak atas informasi. AJI juga bergerak untuk melawan misinformasi dan disinformasi demi mendukung ekosistem informasi yang sehat bagi publik.

    Oleh karena itu, Jaringan CekFakta yang terdiri dari AJI, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (MAFINDO), serta 24 media lainnya menyatakan:

    1. Peretasan dan serangan disinformasi terhadap Ketua Umum AJI Indonesia Sasmito, merupakan teror terhadap demokrasi;

    2. Mendesak pemerintah untuk melindungi pembela hak asasi manusia, termasuk di dalamnya pembela kebebasan pers dan kebebasan berekspresi;

    3. Mengajak elemen masyarakat untuk menolak penggunaan disinformasi untuk merusak demokrasi dan menjatuhkan kredibilitas pembela HAM.


    Jakarta, 25 Februari 2022

    Koordinator Sekretariat Nasional CekFakta
    Adi Marsiela
    Hotline: info@cekfakta.com
  • Benar, Eropa Tambahkan Gangguan Saraf Langka Dalam Daftar Efek Samping Vaksin AstraZeneca

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 14/09/2021

    Berita


    Sebuah unggahan berisi klaim bahwa vaksin AstraZeneca memiliki efek samping baru beredar di media sosial. Unggahan tersebut dibagikan dengan narasi bahwa Otoritas Obat Eropa telah menambahkan daftar baru efek samping vaksin Astrazeneca yaitu Guillain Barre Syndrome atau gangguan kerusakan saraf langka.
    Di Instagram, unggahan tersebut dibagikan akun ini pada 11 September 2021. berikut narasi lengkapnya:
    “Eropa telah menambahkan daftar efek samping penggunaan vaksin AstraZeneca. Efek sampingnya adalah gangguan kerusakan saraf langka yaitu guillain barre syndrome (GBS). Berikut ini selengkapnya! Otoritas obat Eropa (EMA) menyebut ada hubungan kausal antara GBS dan suntikan vaksin AstraZeneca. Disebutkan bahwa sudah ada 833 kasus sindrom langka guillain barre syndrome dari 592 juta dosis vaksin AstraZeneca yang diberikan di seluruh dunia berdasarkan data 31 Juli 2021. Walau begitu, EMA sendiri mengklaim bahwa kasus GBS ini sebagai efek yang sangat jarang. Ini artinya manfaat vaksin itu sendiri lebih besar ketimbang efek sampingnya yang memang sangat jarang terjadi. Tak hanya EMA, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) juga mengatakan hal yang sama bisa terjadi jika menggunakan vaksin Johnson & Johnson. Pasalnya kedua vaksin tersebut memiliki teknologi yang sama yaitu vektor virus yang belakangan dikaitkan dengan efek samping pembekuan darah langka. Walau begitu, EMA dan juga FDA tetap mengklaim bahwa penggunaan vaksin lebih baik dan lebih banyak manfaatnya ketimbang tidak vaksin sama sekali.”
    Dalam unggahan tersebut juga terdapat teks yang menyebutkan bahwa efek samping baru vaksin Astrazeneca. Eropa telah menambahkan daftar efek samping penggunaan vaksin AstraZeneca. Efek sampingnya adalah gangguan kerusakan saraf langka yaitu Guillain Barre Syndrome (GBS).
    Apa benar Eropa telah menambahkan Gangguan Saraf Langka dalam daftar efek samping Vaksin AstraZeneca?
    Tangkapan layar unggahan dengan klaim gangguan saraf langka masuk dalam daftar efek samping Vaksin AstraZeneca

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri pemberitaan terkait melalui sejumlah media kredibel dengan menggunakan kata kunci “Efek samping baru vaksin AstraZeneca,” pada mesin pencari Google. Hasilnya, regulator obat-obatan Eropa (EMA) telah menambahkan gangguan kerusakan saraf yang sangat langka, sindrom Guillain-Barré, sebagai kemungkinan efek samping dari vaksin COVID-19 AstraZeneca.
    Dilansir dari situs World Health Organisation ( WHO ), pada 13 dan 20 Juli 2021, subkomite COVID-19 dari Komite Penasihat Global WHO untuk Keamanan Vaksin (GACVS) bertemu secara virtual untuk membahas laporan langka Sindrom Guillain-Barré (GBS) setelah vaksinasi dengan vaksin Janssen dan AstraZeneca COVID-19. Kedua vaksin menggunakan platform adenovirus sebagai tulang punggungnya.
    Untuk Vaxzevria (vaksin AstraZeneca COVID-19 yang diproduksi di Eropa, Pharmacovigilance Risk Assessment Committee (PRAC) dan Badan Obat Eropa (EMA) mengeluarkan pernyataan pada 9 Juli yang merekomendasikan penambahan peringatan untuk meningkatkan kesadaran akan GBS setelah vaksinasi, meskipun mereka tidak dapat mengkonfirmasi atau mengesampingkan hubungan dengan vaksin.
    Dilansir dari situs Ema, informasi produk akan diperbarui dengan sindrom Guillain-Barré (GBS) sebagai efek samping dari Vaxzevria. Nyeri pada kaki dan lengan atau perut dan gejala seperti influenza juga telah dimasukkan dalam informasi produk sebagai efek samping.
    “Peringatan untuk meningkatkan kesadaran akan kasus sindrom Guillain-Barré (GBS) yang dilaporkan setelah vaksinasi disertakan dalam informasi produk Vaxzevria setelah PRAC pada Juli 2021,” dilansir dari Ema 22 Juli 2021.
    GBS adalah peradangan saraf yang serius, yang dapat menyebabkan hilangnya perasaan dan gerakan sementara (kelumpuhan) dan kesulitan bernapas.
    PRAC terus memantau GBS dan pada September 2021 menilai data tambahan yang diminta dari pemegang izin edar dan hasil dari tinjauan literatur ilmiah. Sebanyak 833 kasus GBS telah dilaporkan dengan Vaxzevria di seluruh dunia pada 31 Juli 2021, sementara sekitar 592 juta dosis Vaxzevria telah diberikan kepada orang-orang di seluruh dunia pada 25 Juli 2021.
    Dilansir dari Reuters, regulator obat-obatan Eropa (EMA) telah menambahkan gangguan kerusakan saraf yang sangat langka, sindrom Guillain-Barré, sebagai kemungkinan efek samping dari vaksin COVID-19 AstraZeneca.
    Badan Obat Eropa mengatakan hubungan kausal antara GBS dan suntikan AstraZeneca, yang dikenal sebagai Vaxzevria, disebut sebagai “kemungkinan yang masuk akal" setelah 833 kasus GBS dilaporkan dari 592 juta dosis vaksin yang diberikan di seluruh dunia pada 31 Juli.
    EMA mengkategorikan efek samping sebagai "sangat jarang", frekuensi terendah dari kategori efek samping yang dimilikinya, dan telah menekankan bahwa manfaat dari suntikan lebih besar daripada risikonya.
    Badan Pengawas Obat dan Makanan AS telah menambahkan peringatan tentang sindrom Guillain-Barré sebagai kemungkinan efek samping dari suntikan Johnson & Johnson (JNJ.N). Kedua vaksin menggunakan teknologi vektor virus, dan juga telah dikaitkan dengan pembekuan darah yang langka.
    EMA juga menandai beberapa efek samping lain yang tidak terlalu parah pada vaksin dari Johnson & Johnson (JNJ.N), Moderna serta suntikan AstraZeneca.
    Sindrom Sindrom Guillain-Barre bukan hal baru di dunia medis. Sejak satu abad lalu, sindrom Guillain Barré kerap dikaitkan dengan infeksi virus atau bakteri. Namun ini adalah penyakit autoimun yang tergolong langka.
    "Benar (ini penyakit langka)," ungkap dokter kepala divisi saraf tepi RS PON Aldy Novriansyah kepada CNNIndonesia.com.
    Sindrom Guillain-Barre adalah kelainan langka di mana sistem kekebalan tubuh menyerang saraf. Sistem imunitas tubuh berbalik menyerang saraf dan mengakibatkan kelumpuhan. Kelemahan dan kesemutan pada bagian ekstremitas biasanya merupakan gejala pertama.
    "(GBS) Itu suatu peradangan terjadi di akar saraf tulang belakang, mulai dari leher sampai tangan dan kaki. Utamanya di situ, tapi bisa juga meluas sampai ke saraf kranial," ungkapnya.
    "Ini merupakan bagian dari autoimun. Jadi awalnya itu biasanya kebanyakan sebagian besar dari suatu proses infeksi apapun, tapi yang paling banyak infeksi pencernaan, jadi dari infeksi itu memicu timbulnya suatu antibodi. Hanya saja akhirnya pada beberapa orang tertentu antibodi yang malah menyerang saraf,” jelas Aldy.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Eropa telah menambahkan Gangguan Saraf Langka dalam daftar efek samping Vaksin AstraZeneca benar. Namun, regulator obat-obatan Eropa (EMA) mengkategorikan efek samping tersebut sebagai "sangat jarang”. Merupakan frekuensi terendah dari kategori efek samping yang dimilikinya. EMA juga menekankan bahwa manfaat dari suntikan vaksin AstraZeneca lebih besar daripada risikonya.
    TIM CEK FAKTA TEMPO

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Benar, Klaim Pria Ini Ditangkap Polisi karena Tak Percaya Covid-19

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 23/06/2021

    Berita


    Gambar tangkapan layar sebuah unggahan di Instagram yang berisi teks “Tak Percaya Covid-19 AS Ditangkap Polisi” beredar di media sosial. Dalam unggahan itu, terlihat seorang pria yang mengenakan kaos berwarna putih. Terdapat pula logo "Tribun Network" dalam unggahan itu. Akun ini mengunggah gambar tangkapan layar tersebut pada 21 Juni 2021.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook terkait seorang pria yang ditangkap polisi karena membuat video yang berisi pernyataan ketidakpercayaannya terhadap Covid-19.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri sumber unggahan dalam gambar tangkapan layar itu dengan reverse image tool Source dan Google. Ditelusuri pula pemberitaan di media-media kredibel.
    Hasilnya, ditemukan bahwa unggahan tersebut bersumber dari video pernyataan seorang pemuda asal Kuningan, Jawa Barat, bernama Asep Sakamullah (AS) yang menantang memegang mayat pasien Covid-19 untuk membuktikan bahwa Covid-19 itu nyata. Ia pun ditangkap polisi, karena pernyataannya dianggap meresahkan.
    Video yang identik pernah dimuat ke YouTube oleh kanal Tribun MedanTV pada 20 Juni 2021 dengan judul “Viral Tak Percaya Covid-19, Pria Ini Ditangkap Polisi, Begini Kata Kapolsek Ciwaru”. Video identik lainnya juga pernah dimuat ke YouTube oleh kanal KOMPASTV pada 22 Juni 2021 dengan judul “1 Warga Tidak Percaya Corona di Kuningan Jabar Ditangkap Polisi”.
    Dikutip dari Kompas.com, video viral tentang seorang pemuda yang menantang memegang mayat pasien Covid-19 untuk membuktikan bahwa Covid-19 itu nyata beredar luas di media sosial sejak 18 Juni 2021. Keesokan harinya, pria tersebut ditangkap polisi dan dibawa ke Polsek Ciwaru, Kuningan. Berikut isi pernyataan pemuda yang berinisial AS, 32 tahun, itu dalam videonya:
    "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, sadulur sadayana. Punten, saya membuat video ini dengan hati yang normal dan sadar dan dengan hati penuh kasih sayang. Kaitan masalah Covid, punten, saya pribadi punten tidak ada maksud memprovokator cuman ini mah penilaian pribadi saya. Saya akan pegang mayit tersebut. Kalau dua hari saya meninggal benar Covid itu ada. Maaf, saya tidak ada maksud memprovokasi tapi ini pernyataan hati saya. Namun, jika saya tidak mati, maka teman-teman bisa melihat dan menilainya bagaimana. Demi Allah, Wa Allahi ini ungkapan pribadi tidak ada olok-olok dari siapa pun. Saya tidak percaya Covid-19. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Asep Sarkamullah."
    Dilansir dari Detik.com, Asep Sakamullah, 32 tahun, dibekuk setelah polisi menerima informasi dari warga. Kapolsek Ciwaru Inspektur Satu Nurjani mengatakan Asep ditangkap pada 19 Juni 2021, sehari setelah videonya viral. "Awalnya kami menerima informasi terkait viralnya video itu yang dibuat salah satu warga Ciwaru. Ramai di medsos pada Jumat malam. Kami langsung mencari keberadaan pria tersebut dan baru diamankan hari ini," katanya.
    Menurut Nurjani, Asep ditangkap karena ucapannya dalam video berdurasi 2 menit 50 detik itu dapat memprovokasi masyarakat luas. Bahkan, kata dia, banyak tenaga kesehatan yang tidak terima dengan pernyataan Asep. "Karena khawatir memprovokasi dan mencederai teman-teman nakes, karena banyak juga nakes yang kemudian menghubungi kita karena tidak terima dengan ucapan pelaku," tutur Nurjani.
    Berdasarkan arsip berita Tempo, Asep Sakamullah akhirnya meminta maaf kepada Satgas Covid-19, TNI dan Polri, serta masyarakat pada 20 Juni 2021. Asep adalah pembuat konten video yang sempat viral dengan mengatakan bahwa dia tidak percaya adanya Covid-19. Di video itu, Asep bahkan menantang akan bereksperimen untuk memegang jenazah Covid-19.
    Dilansir dari Kumparan.com, Asep telah dilepaskan oleh polisi dan hanya dikenakan sanksi wajib lapor selama 1 bulan. "Iya betul, kita kembalikan lagi ke keluarganya. Kita hanya klarifikasi, setelah kita klarifikasi dan Asep membuat pernyataan permintaan maaf atas pendapatnya yang membuat keresahan,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kuningan, Ajun Komisaris Danu Raditya Atmaja, pada 21 Juni 2021.
    Ketika itu, Asep pun menyatakan tidak akan mengulangi perbuatan yang serupa, yang dibubuhkan dalam surat pernyataan bermaterai. "Iya sudah ada tanda tangan di atas materai. Kita juga minta untuk wajib lapor setiap hari Senin dan Kamis agar kita pantaulah, jangan sampai membuat resah masyarakat Ciwaru atau secara keseluruhan nasional, karena di-upload-nya di YouTube."

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa pria dalam unggahan di atas ditangkap polisi karena tidak percaya Covid-19, benar. Unggahan tersebut bersumber dari video yang memperlihatkan seorang pemuda yang menantang memegang mayat pasien Covid-19 untuk membuktikan bahwa Covid-19 itu nyata. Pria bernama Asep Sakamullah ini pun ditangkap polisi pada 19 Juni 2021, karena pernyataannya dalam video tersebut dinilai meresahkan. Namun, Asep akhirnya meminta maaf dan kini telah dibebaskan. Meski begitu, ia mesti wajib lapor selama 1 bulan.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Benar, Klaim Ini Video Tumpukan Jenazah Covid-19 yang Penuhi RS di India

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 27/04/2021

    Berita


    Video yang memperlihatkan kantong-kantong jenazah yang memenuhi sebuah rumah sakit beredar di media sosial. Dalam video itu, terlihat beberapa petugas dengan alat pelindung diri (APD) lengkap. Video ini diklaim menunjukkan tumpukan jenazah korban Covid-19 di India. Video itu beredar di tengah "tsunami Covid" di India karena melonjaknya kasus infeksi virus Corona di sana.
    Di Instagram, video berdurasi 38 detik tersebut dibagikan oleh akun ini pada 23 April 2021. Akun itu pun menulis, "India baru saja memecahkan rekor harian covid19 sebanyak 300K lebih jiwa yg terpapar dalam satu hari. Bahkan 2.000 nyawa meninggal dalam sehari. Sehingga ibukota New Delhi, India mengalami krisis Oksigen beberapa hari belakangan."
    Gambar tangkapan layar unggahan di Instagram yang berisi video yang memperlihatkan tumpukan jenazah Covid-19 di sebuah rumah sakit di India.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim itu, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video tersebut menjadi sejumlah gambar dengan tool InVID. Lalu, gambar-gambar itu ditelusuri denganreverse image toolGoogle. Hasilnya, ditemukan bahwa video tersebut direkam di Dr. Bhim Rao Ambedkar Memorial Hospital, Raipur, Chhattisgarh, India. Rumah sakit ini kewalahan karena lonjakan jumlah kematian akibat infeksi virus Corona per hari sehingga kehabisan ruang untuk menyimpan jenazah.
    Video tersebut pernah diunggah ke Twitter oleh akun @VickyKedia pada 13 April 2021. Akun ini menulis, "Dr Bhim Rao Ambedkar Memorial Hospital di Raipur, Chhattisgarh, telah kehabisan ruang untuk menyimpan mayat. Mayat ditumpuk di luar gedung rumah sakit. #StaySafe #MaskUpIndia."
    Video yang sama juga pernah diunggah oleh akun @brajeshabpnews, akun  Twitter milik jurnalis media India ABP News, Brajesh Rajput, pada tanggal yang sama. Dia menulis, "Video di rumah sakit Raipur ini akan membuat merinding. Tempat penyimpanan jenazah yang meninggal karena #Corona sangat sedikit di rumah sakit. Siapa yang bertanggung jawab atas kengerian ini, para pemimpin kami diam."
    Gambar-gambar tangkapan layar video itu pun pernah dimuat oleh situs media India, India.com, dalam artikelnya pada 13 April 2021. Artikel ini berjudul "Kematian Virus Corona Chhattisgarh: Sebuah pemandangan kematian, gambar-gambar dari rumah sakit terbesar di Chhattisgarh ini menyesakkan".
    Menurut laporan India.com, gambar-gambar tersebut diambil di rumah sakit milik pemerintah terbesar di Raipur, ibukota Chhattisgarh, Dr. Bhim Rao Ambedkar Memorial Hospital. Dalam gambar-gambar itu, terlihat tumpukan jenazah Covid-19 di setiap sisi rumah sakit, dari yang berada di atas tandu hingga yang diletakkan di lantai, akibat kurangnya ruang penyimpanan.
    Dilansir dari situs media India lainnya, NDTV, pihak Dr. Bhim Rao Ambedkar Memorial Hospital mengaku tidak berdaya dengan kondisi ini. Menurut mereka, jenazah pasien Covid-19 menumpuk di kamar mayat lebih cepat daripada yang bisa mereka kremasi. Unit perawatan intensif rumah sakit dan tempat tidur yang dilengkapi oksigen hampir penuh 100 persen selama seminggu terakhir.
    "Tidak ada yang bisa menduga akan ada begitu banyak kematian sekaligus. Kami memiliki ruang pendingin yang cukup untuk jumlah kematian normal. Tapi kami tidak dapat memahami bagaimana tempat yang hanya cukup untuk 1-2 kematian kemudian melaporkan 10-20 kematian. Jika kita bersiap untuk 10-20 kematian, ada 50-60 orang yang meninggal. Bagaimana kita bisa mengatur ruang pendingin untuk begitu banyak orang sekaligus? Bahkan krematorium kewalahan," kata Kepala Petugas Medis dan Kesehatan Raipur, Meera Baghel.
    Menurut sumber resmi, setiap harinya, rata-rata sebanyak 55 jenazah dikremasi di Raipur, dan kebanyakan dari mereka adalah pasien Covid-19. Sementara Chhatisgarh merupakan satu di antara 10 negara bagian yang paling terpukul oleh gelombang kedua Covid-19 di di India. Pada 25 April 2021, Chhatisgarh melaporkan sebanyak 10.521 kasus Covid-19 baru dan 122 kematian.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video itu adalah video tumpukan jenazah  Covid-19 yang memenuhi rumah sakit di India, benar. Video tersebut direkam di Dr. Bhim Rao Ambedkar Memorial Hospital, Raipur, Chhattisgarh, India. Sejak gelombang kedua Covid-19 melanda India, rumah sakit tersebut kewalahan karena lonjakan jumlah kematian per hari sehingga kehabisan ruang untuk menyimpan jenazah.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini