• [SALAH] Penularan Difteri Dari Bumbu Cabai Kering yang Terkena Air Seni Tikus

    Sumber: Whatsapp dan Media Sosial Facebook
    Tanggal publish: 18/02/2019

    Berita

    Dki Jakarta, Jabar. Ada 600 yang kena. RS penuh dg kondisi anak2 Difteri. 38 sdh meninggal. Jadi memang kejadian luarbiasa. Dinkes DKI Jakarta mengadakan imunisasi masal sd 11 Des. Usia 1 sd 19 tahun

    Hati2 jgn jajan yg pk cabe bubuk, Jgn jajan pk cabe kering seperti cabe di tahu bulat, otak2, dsb. pokoknya jgn pake cabe bumbu kering. Karena penuh penyakit dr kencing tikus, kasusnya byk yg meninggal karena penyakit difteri...

    PERHATIAN
    Utk kita2 yg keluarga atau putra putrinya suka mengkonsumsi jajanan dg menggunakan bumbu tabur (terutama yg mengandung cabe kering) spt... cilok, tahu crispy, singkong goreng atau yg lain, monggo dievaluasi kembali.
    Knp? Di pabrik cabe tabur, tampak bahan cabe kering ditimbun di gudang tak peduli dijadikan sarang tikus.
    Tentu saja KENCING TIKUS akan tercecer disana dan membahayakan.
    Mari kita jaga keluarga kita.
    Gejala Difteri
    Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi:
    • Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
    • Demam dan menggigil.
    • Sakit tenggorokan dan suara serak.
    • Sulit bernapas atau napas yang cepat.
    • Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
    • Lemas dan lelah.
    • Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.
    DIHIMBAU UTK HATI2 saat ini DIFTERI sudah dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), jadi kalau tidak terpaksa betul, jangan jajan diluar ya. Tolong disampaikan pada semua keluarga dekat.
    Penularan melalui droplet spt dari ludah , batuk, dll kaya penularan TBC. Jadi hindari tempat2 keramaian seperti tempat2 rekreasi dll ini khusus warga Jakarta, Jawa barat dan sekitarnya.

    Info : Dinkes DKI Jakarta

    Hasil Cek Fakta

    Difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium dan bukan berasal dari air seni tikus. Adapun, penyakit dari air seni tikus disebut leptospirosis. Dengan demikian, klaim pada narasi tidak benar.

    Rujukan

    • Mafindo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Benarkah pemerintahan Jokowi telah menyelesaikan lubang-lubang tambang yang belum direklamasi?

    Sumber: Debat Capres
    Tanggal publish: 18/02/2019

    Berita

    Calon Presiden Jokowi mengatakan bahwa selain penghutanan kembali, beberapa tambang juga telah melakukan reklamasi kembali. Ada yang menjadi wisata pantai ada juga yang jadi kolam ikan besar.

    Pernyataan itu disampaikan Jokowi dalam Debat Capres ke-2 pada Sabtu 17 Februari 2019, menjawab pertanyaan panelis tentang langkah konkret kedua capres untuk mengatasi masalah lingkungan dan sosial ekonomi yang ditimbulkan oleh lubang-lubang bekas tambang.

    "Ada satu dua tiga yang memang belum dikerjakan, tetapi sekali lagi dengan pengawasan pemerintah daerah dengan pengawasan kementerian lingkungan hidup, saya meyakini ini bisa di satu persatu bisa diselesaikan," kata Jokowi.

    Hasil Cek Fakta

    Catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan per Januari 2018 menunjukkan lahan yang berhasil direklamasi per tahun lalu baru 6.808 hektare. Sedangkan lahan bekas tambang di Indonesia mencapai 557 ribu hektare.

    Di Samarinda, misalnya, ada 232 lubang bekas tambang yang terbengkalai. Lubang sisa tambang juga ditemukan di Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Berau. 

    Banyaknya lubang tambang yang belum diselesaikan ini menyebabkan jatuhnya korban. Catatan Akhir Tahun (Catahu) Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) 2018, menunjukkan, bahwa sejak 2014-2018 sebanyak 115 korban tewas di lubang tambang.

    “Tak ada rehabilitasi yang serius, menewaskan 32 orang di Kalimantan Timur,” tulis Jatam dalam akun Twitternya, 18 Februari 2019.

    Kesimpulan

    Klaim Jokowi yang telah menyelesaikan lubang-lubang tambang yang belum direklamasi adalah salah.

    Rujukan

    • Tempo
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • CEK FAKTA DEBAT CAPRES : Capres Jokowi Klaim Impor Jagung Turun? Ini Data BPS

    Sumber: Presentasi debat Capres 17 Februari 2019
    Tanggal publish: 18/02/2019

    Berita

    Bisnis.com, JAKARTA - Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo menyebut pada 2014 lalu impor komoditas jagung yang dilakukan sebanyak 3,5 juta ton. Kemudian, jumlah impor komoditas yang sama turun pada 2018 menjadi 180.000 ton.

    “Artinya ada produksi 3,3 juta ton jagung oleh petani,” kata Jokowi saat menyampaikan visi dan misi dalam debat capres kedua di Hotel Sultan Jakarta, Minggu (17/2/2019).

    Dia menyinggung angka impor jagung karena hal tersebut menjadi bagian salah satu tema debat kali ini yakni pangan.

    Pernyataan Jokowi bisa diuji dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS).

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2014 impor jagung yang dilakukan sebanyak 3,25 juta ton dan bernilai US$810,42 juta.

    Jumlah impor jagung pada 2018 turun menjadi 737.228 ton dan senilai US$159,54 juta.

    Jika dibandingkan dengan data BPS, maka pernyataan Jokowi soal jumlah impor jagung agak berbeda.

    Atas data ini, Juru Bicara Kementerian Pertanian (Kementan) Kuntoro Boga Andri menjelaskan pernyataan yang disampaikan oleh Calon Presiden Joko Widodo merupakan jagung untuk pakan. Jagung untuk industri rekomendasi impor oleh Kementrian Perindustrian. "Kementan hanya mengeluarkan rekomendasi impor jagung 180.000 ton untuk pakan 2018."

    Hasil Cek Fakta

    Jika dibandingkan dengan data BPS, maka pernyataan Jokowi soal jumlah impor jagung agak berbeda.

    Atas data ini, Juru Bicara Kementerian Pertanian (Kementan) Kuntoro Boga Andri menjelaskan pernyataan yang disampaikan oleh Calon Presiden Joko Widodo merupakan jagung untuk pakan. Jagung untuk industri rekomendasi impor oleh Kementrian Perindustrian. "Kementan hanya mengeluarkan rekomendasi impor jagung 180.000 ton untuk pakan 2018."

    Kesimpulan

    Yang disampaikan oleh Calon Presiden Joko Widodo merupakan jagung untuk pakan. Jagung untuk industri rekomendasi impor oleh Kementrian Perindustrian.
    • Bisnis Indonesia
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini

  • Jokowi Sebut Impor Beras Indonesia Sejak 2014 Turun, Benarkah?

    Sumber: Debat Capres
    Tanggal publish: 17/02/2019

    Berita

    Dalam salah satu bagian Debat Pilpres 2019, Minggu (17/2/2019) malam, capres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) menanggapi pertanyaan capres nomor 02 Prabowo Subianto terkait impor hasil pertanian. Salah satu yang sempat disebutkan Jokowi adalah bahwa terkait beras, sejak 2014 sampai sekarang impor beras Indonesia menurutnya sudah turun.

    "Di bidang beras, perlu saya sampaikan juga bahwa sejak 2014 sampai sekarang impor kita untuk beras ini turun," kata Jokowi.

    Hasil Cek Fakta

    Hasil penelusuran menemukan antara lain data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Salah satu data terbaru terkait itu yang bisa ditemukan di situs BPS, memuat tabel impor beras di rentang tahun 2000-2017.

    Dilihat dari data BPS tersebut, secara total volume (berat bersih), impor beras ternyata justru sempat menunjukkan angka kenaikan pada tahun 2015 dibanding 2014, dan kenaikan pada 2016 dibanding 2015. Jika data impor beras tahun 2014 tercatat 844.163,7 ton, di tahun 2015 tercatat jumlahnya mencapai 861.601 ton. Bahkan di tahun berikutnya yaitu 2016, angkanya mencapai 1.283.178,5 ton.

    Sementara secara nilai CIF, masih dari tabel yang sama, kenaikan angka tercatat pada tahun 2016. Di mana jika pada 2015 nilainya adalah 351.602.200 dolar AS, di tahun 2016 tercatat bernilai 531.841.600 dolar AS.

    Hal ini juga diperkuat data lain, semisal data Kementan, sebagaimana dikutip Auriga (Yayasan Auriga Indonesia). Begitu juga ungkapan berikut data yang antara lain pernah ditulis ekonom Faisal Basri, misalnya. Selengkapnya cek di link referensi.

    Kesimpulan

    Merujuk pada beberapa data yang ditemukan, bisa disimpulkan jika pernyataan Jokowi bahwa sejak 2014 sampai sekarang impor beras Indonesia turun, tidaklah tepat alias salah, baik dari segi volume maupun dari segi nilainya.

    Rujukan

    • Suara.com
    • 1 media telah memverifikasi klaim ini